Rabu, 29 Juli 2009

There are no Instant Habits

“Practice these things. Devote your life to them so that everyone can see your progress” (1 Timothy 4:15 GWT).

While you were given a brand new nature at the moment of conversion, you still have old habits, patterns, and practices that need to be removed and replaced.

We are afraid to humbly face the truth about ourselves. I have already pointed out that the truth will set us free but it often makes us miserable first.

The fear of what we might discover if we honestly faced our character defects keeps us living in the prison of denial. Yet, we often build our identities around our defects. We say, “It’s just like me to be” and “It’s just the way I am.” The unconscious worry is that if I let go of my habit, my hurt, or my hang-up, who will I be? This fear can definitely slow down your growth.

........
Read more
Click this link -> There are no Instant Habits

KETIKA KEADAAN MENJADI BURUK

Karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil

(Kejadian 39:23)
Pernahkah Anda mengalami bahwa saat Anda melakukan sesuatu yang benar, keadaan justru menjadi buruk? Apakah itu menunjukkan bahwa Anda adalah orang jahat? Adakah itu berarti Allah menolak Anda?

Mungkin Yusuf juga memiliki pertanyaan serupa di sepanjang peristiwa yang tercatat dalam Kejadian 39. Masalahnya bermula tatkala ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Sejak itu, meski ia telah berlaku sangat baik, namun masalah terus menguntitnya. Sebagai contoh, walaupun Yusuf menjaga integritasnya, namun ia dituduh melakukan kejahatan serius terhadap istri Potifar, majikannya.

Potifar menanggapi hal itu dengan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara. Yusuf, seorang yang baik, jujur, percaya pada Allah, merana dalam penjara Mesir. Mengapa Allah tidak melepaskannya? Mengapa kebenaran itu tidak terusut? Bukankah keadaan benar-benar tampak tidak adil?

Selama beberapa waktu tak terjadi sesuatu pun pada diri Yusuf. Namun, yang penting di sini adalah, "TUHAN menyertai Yusuf" (39:21). Allah sedang menjalankan rencana-Nya, dan untuk sementara waktu Yusuf harus tinggal di penjara orang Mesir. Apa yang tampaknya buruk, sesungguhnya baik, karena itu adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna.

Adakah hal-hal yang Anda rasa tidak berjalan dengan semestinya? Pastikan bahwa Anda sedang melakukan apa yang benar. Taatilah Allah dan tetaplah berada di dekat-Nya. Kemudian, berdiam dirilah dan perhatikan bagaimana Dia mengerjakan rencana-Nya yang sempurna!
- JB

KESUKARAN SERINGKALI MERUPAKAN BERKAT YANG TERSELUBUNG

Kejadian 39:7-23

Doa Itu Kebutuhan

Suatu waktu di gereja, seorang pendeta bertanya kepada satu keluarga, “Apakah kalian melakukan doa bersama?” “Maaf, Pak pendeta,” jawab kepala keluarga itu, “ kami tidak punya waktu untuk itu.” Pendeta itu berkata, ”Seandainya kamu tahu salah seorang anakmu akan sakit, apakah kalian tidak berdoa bersama memohon kesembuhannya?” “Oh, tentu kami akan berdoa,” jawab sang ayah. “Seandainya kamu tahu bahwa ketika kamu tidak berdoa bersama, salah satu anakmu akan terluka dalam kecelakaan, apakah kamu tidak akan berdoa bersama?” “Kami pasti akan melakukannya.” “ Seandainya untuk tiap hari kamu lupa berdoa, kamu akan dihukum lima ratus ribu, apakah kamu akan berdoa?” “Tentu Pak, kami akan berdoa bersama. Tapi maaf, apa maksud pertanyaan-pertanya an tadi?” “Begini pak, saya pikir masalah keluarga anda bukan soal waktu. Buktinya anda ternyata selalu punya waktu untuk berdoa. Masalahnya adalah, Anda tidak menganggap doa keluarga itu penting, sepenting membayar denda atau menjaga agar anak-anak tetap sehat.”

Doa seharunsya menjadi kunci pembuka di pagi hari dan gembok pelindung di malam hari. Doa memberi kekuatan kepada orang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya, dan memberi keberanian kepada orang yang takut. Jika kita berdoa saat kesulitan, doa itu akan meringankan kesulitan kita. Jika kita berdoa pada saat gembira, doa itu akan melipatgandakan kegembiraan kita.

Bila akhir-akhir ini kita tidak atau jarang berdoa, sekaranglah waktunya untuk memulai kembali. Komunikasi langsung dengan Tuhan melalui doa dapat menciptakan keajaiban bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Satu hari yang dilipat dalam doa tidak akan mudah dikoyakkan.

Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam roh.

( Efesus 6:18a )

Sabtu, 25 Juli 2009

Diberkati Untuk Memberkati

Ayat bacaan: Lukas 8:2-3
============ =========
"dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka."

diberkati untuk memberkatiMemang ada banyak artis yang bagaikan kacang lupa kulit. Tenar sedikit saja, perilakunya berubah dan menjadi angkuh. Dalam dunia media yang saya jalani, saya mendapatkan banyak kisah dari para kuli tinta lainnya atau para promotor mengenai perilaku artis-artis yang bisa begitu menjengkelkan. Tapi tidak semua artis punya perilaku negatif. Di antara mereka yang tersesat akibat glamor dan popularitas yang mereka alami, masih banyak pula yang rindu untuk terus memberkati dan melayani. Ada yang aktif di berbagai bidang. Menyumbangkan uangnya untuk riset-riset medis, membuat berbagai foundation, aktif di bidang sosial atau kegiatan kemanusiaan, lingkungan hidup, atau tetap aktif dalam pelayanan. Dalam perjalanan saya menekuni salah satu karir di bidang media, puji Tuhan, saya masih mendapati banyak artis yang punya komitmen tinggi untuk memberkati sesamanya. Artinya mereka sadar betul bahwa berkat berlimpah yang mereka terima dari Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa mereka simpan sendiri saja, melainkan harus dipakai untuk memberkati sesamanya pula. Menjadi saluran berkat. Tidak perlu takut untuk itu, karena Tuhan sanggup memberkati lebih lagi kepada orang-orang yang selalu memegang prinsip teguh dan memiliki kerinduan untuk memberkati orang lain. Saya sendiri juga mengalami itu semua. Kesimpulan saya adalah seperti ini: ketika kita memberi dengan niat tulus, dimana Tuhan dipermuliakan dan bukan dengan motivasi-motivasi yang salah, tidak ada yang berkurang ketika kita memberi berkat, malah yang ada kita akan ditambahkan lebih, lebih dan lebih lagi.

Hari ini mari kita lihat sepenggal kisah mengenai para wanita yang melayani Yesus. Dalam Lukas 8:1-3 kita bisa melihat bahwa dalam perjalanan Yesus dan kedua belas murid-muridNya berkeliling dari kota ke kota dan desa ke desa dalam pelayananNya, mereka juga disertai oleh beberapa orang wanita yang pernah mengalami mukjizat kesembuhan. Maria Magdalena yang pernah disembuhkan dari tujuh roh jahat/setan (ini ditegaskan lagi pada Markus 16:9), Yohana istri bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Di dalam Lukas 3, ditulis mengenai keterlibatan mereka disana, yaitu: "Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka." (Lukas 8:3). Para wanita ini adalah orang-orang yang telah diselamatkan, dan tampaknya mereka juga diberkati dengan kekayaan. Tapi lihatlah bahwa mereka tidak menjadi lupa diri, mereka bukan termasuk kategori kacang yang lupa kulit. Mereka melayani bersama-sama dengan Yesus, dan mempergunakan kekayaan mereka untuk melayani dan memberkati sesama. Saya yakin mereka sadar betul bahwa Tuhan sanggup memberkati secara berlimpah, dan mereka tidak akan kekurangan meskipun mereka mempergunakan harta kekayaan mereka untuk memberkati orang lain. Mereka sadar betul, Tuhan memberkati mereka agar dapat menjadi berkat bagi sesamanya.

Sudahkah kita memiliki kerinduan untuk memberkati orang lain lewat apa yang kita miliki? Harta, talenta, ilmu, apapun itu yang berasal dari Tuhan bisa kita pergunakan untuk memberkati orang lain. Tidak ada gunanya bersikap pelit. Dalam Lukas 6 kita membaca demikian: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Dalam Amsal kita baca demikian: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." (Amsal 11:24-25). Dalam kesempatan lain, Yesus berkata: "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Matius 10:42). Lihatlah bahwa Tuhan selalu menekankan pentingnya membagi berkat kepada orang lain. Apa yang Dia berikan kepada kita, bukanlah untuk kita simpan sendiri, namun haruslah dipakai untuk bisa memberkati sesama kita, siapapun mereka.

Saat ini, sejauh mana kita telah mempergunakan berkat yang telah kita terima dari Tuhan? Tidak akan ada pemberian yang kita lakukan dengan tulus didasari kerinduan dan cinta kita pada Tuhan akan berakhir sia-sia. Tidak peduli berapapun yang bisa anda berikan saat ini, sekalipun sangat kecil jumlahnya, namun semua itu sangatlah berharga di mata Tuhan. Tuhan selalu sanggup mencukupkan, bahkan memberkati berkelimpahan. Ketika kita memberi, kita akan diberi. Ketika kita memberi minum, kita akan diberi minum. Ketika kita banyak menabur berkat, kita akan menuai kelimpahan. Paulus mengingatkan hal ini juga. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Jangan pernah merasa bosan untuk memberkati, karena Tuhan pun tidak pernah merasa bosan untuk memberkati anda.

Jangan jemu untuk menjadi berkat bagi sesama manusia

Sumber :renungan-harian-online.blogspot.com

Kamis, 23 Juli 2009

The Six Phases of Faith

“Then Jesus touched their eyes and said, ‘Let it happen, then, just as you believe!’” (Matthew 9:29 TEV)

God takes our belief and He blesses us through it, and that makes life a great adventure. It is critical that we cooperate with God as He builds faith within us. Because of its importance, I want to review the six phases of faith we’ve studied over the past week. This will also let you see them all in one place.

Phase 1—Dream: Do I have a dream planted in me by God? If you don’t have a dream, start praying, “God, give me Your dream.” If you can’t write down the dream God has given you, you need to be praying. If you don’t have a dream, you’re not living; you’re just existing. God placed you on this earth for a purpose.

Phase 2—Decision: Do I need to make a faith-decision that will help that dream become a reality? Some of you have a dream from God, but you haven’t made a decision to follow it. You’re still on the fence. God’s word for you is “Go for it!” Some of you may need to make the decision to give your life to Christ. Some of you may need to make the decision to join a church. Some of you may need to make the decision to get involved in ministry.

......
Readmore..... Click link below
Click this link ->The Six Phases of Faith

MUKJIZAT TERUS MUKJIZAT

"Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem, bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya" (Kisah 4:16)

Para sahabat seiman, apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata mukjizat? Seorang kawan yang suka berfilsafat mengatakan bahwa "Mukjizat adalah sesuatu yang terlalu besar untuk dipikirkan oleh nalar". "Bagiku, mukjizat adalah perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah," ujar rekan lainnya. "Menurutku sih, mukjizat adalah kejadian nyata yang menurut Manusia mustahil, tetapi menurut Allah mudah," ujar seorang pakar antrobiologi.

Seorang kontraktor menceritakan bagaimana mukjizat terjadi di dalam hidupnya. Dia bergereja di sebuah jemaat yang sedang membangun gedung gereja. Dialah yang bertanggung jawab membangun gedung Gereja itu. Karena terletak di sebuah pusat keramaian, tentu saja harga tanahnya tinggi. Di samping itu, supaya bisa menampung jemaat dalam jumlah besar, maka bangunannya pun bertingkat dan luas. "Padahal, keuangan jemaat jauh dari kata "cukup", ujarnya. "Namun, mukjizat terjadi. Saat kami mulai membangun, uang Terus mengalir dan kami tidak pernah kekurangan dana. Saat harus membayar tagihan, dana selalu tersedia tepat waktu. Itulah mukjizat!".

Para sahabat seiman, perkara yang dialami sang kontraktor tampak akrab di telinga bukan? Apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang sulit atau hampir mustahil Anda kerjakan, tetapi toh berhasil juga Anda lakukan? Pada saat seperti itu, apakah Anda merasa bahwa Anda memang orang Hebat atau Anda berhenti sejenak untuk mendongak dan mengucapkan syukur atas mukjizat-Nya? Alami satu per satu mukjizat, dan biarlah orang lain memuji Tuhan karena mukjizat itu.

MENGUNDURKAN DIRI

Mulai dari waktu itu banyak murid-muridNya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Yohanes 6:66

Untuk menjadi murid-murid Yesus tidak diperlukan orang yang cerdas, berpendidikan tinggi atau pun kaya, asal ia setia. Inilah sifat yang menjadi tanda pengenal bagi murid Yesus yaitu kesetiaan. Awalnya para murid hanya diminta mengikutiNya dan tampaknya hal itu sangat mudah. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata hidup sebagai murid Yesus itu bukan berarti hanya menerima janji Kristus, melainkan dituntut penyerahan diri secara total, tanpa syarat dan tanpa kompromi. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Lukas 16:13).

Bila kita telah berkomitmen untuk menjadi murid Yesus, maka dosa harus ditinggalkan seluruhnya. Semua pemikiran dan kebiasaan hidup lama harus dibuang dan diselaraskan dengan kehendak Tuhan. Tidak seorang pun dapat begitu saja mengikut Yesus tanpa melepaskan ikatan duniawi. Tuntutan ini sungguh cukup berat, sehingga tidak banyak orangRata Penuh yang mengikut Dia dapat melakukannya. Mereka mau mengikut Yesus dengan syarat: Dia memberi roti dan ikan, berkat dan kesembuhan. Ada juga yang mau mengikut Yesus seenaknya sendiri yaitu minta ijin menguburkan ayahnya dulu (baca Matius 8:21). Akan tetapi saat Yesus berbicara tentang penyangkalan diri dan memikul salib, banyak orang yang akhirnya mengundurkan diri, tidak mau lagi mengikut Yesus seperti yang dikatakan murid-muridNya, Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya? (ayat 60 dari Yohanes 6).

Oleh karena itu seorang calon murid Yesus harus membuat perhitungan masak-masak, karena ia akan dihadapkan pada banyak ujian, tantangan dan ada harga yang harus dibayar. Tidaklah mengherankan bila orang-orang yang mengikut Yesus semakin hari semakin berkurang, lalu Tuhan Yesus berpaling kepada keduabelas muridNya dan bertanya, Apakah kamu tidak mau pergi juga? (ayat 67 dari Yohanes 6).

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu. Lukas 14:33

Sabtu, 18 Juli 2009

THE STORY ABOUT 3 OF TREES

"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri" (Ams. 3:5) "


Kisah 3 pohon
Memang benar kita semua punya mimpi-mimpi yang hancur dan Allah tetapberdiri di atas mimpi-mimpi kita yang hancur karena Dia memiliki mimpiyang lebih baik, lebih tinggi, lebih agung bagi kita...
Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya salingmenceritakan mengenai harapan dan impian mereka..
Pohon pertama berkata: "Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Akuakan diisi emas, perak dan berbagai batu permata dan semua orang akanmengagumi keindahannya" .
Kemudian pohon kedua berkata: "Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuahkapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujungdunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa amanberada dekat denganku".
Lalu giliran pohon ketiga yang menyampaikan impiannya: "Aku ingin tumbuhmenjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akanmemandangku dan berpikir betapa aku begitu dekat untuk menggapai surgadan TUHAN. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa danorang-orang akan mengingatku" .
Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul, sekelompok penebangpohon datang dan menebang ketiga pohon itu...
Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahubahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun.Tetapi...doanya tidak menjadi kenyataan karena tukang kayu membuatnyamenjadi kotak tempat menaruh makanan ternak. Ia hanya diletakkan dikandang dan setiap hari diisi dengan jerami.
Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadikenyataan. Tetapi... ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahunelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untukmengangkut raja-raja telah berakhir.
Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkanteronggok dalam gelap.
Tahun demi tahun berganti..., dan ketiga pohon itu telah melupakanimpiannya masing-masing.
Kemudian suatu hari...Sepasang suami istri tiba di kandang.Sang istri melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak tempat makananternak yang dibuat dari pohon pertama.Orang-orang datang dan menyembah bayi itu.Akhirnya pohon pertama sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan hartaterbesar sepanjang masa.
Bertahun-tahun kemudian...Sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohonkedua. Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berfikirbahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya.Tetapi salah seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai:"Diam!!!" Tenanglah". Dan badai itupun berhenti.Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja di atas segala raja.
Akhirnya...Seseorang datang dan mengambil pohon ketiga..Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek lelaki yangmemikulnya.. Laki-laki itu kemudian dipakukan di kayu ini dan mati dipuncak bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia demikian dekat denganTUHAN, karena YESUSlah yang disalibkan padanya...
KETIKA KEADAAN TIDAK SEPERTI YANG ENGKAU INGINKAN, KETAHUILAH BAHWATUHAN MEMILIKI RENCANA UNTUKMU.JIKA ENGKAU PERCAYA PADA-NYA, IA AKAN MEMBERIMU BERKAT-BERKAT BESAR.KETIGA POHON MENDAPATKAN APA YANG MEREKA INGINKAN, TETAPI TIDAK DENGANCARA YANG SEPERTI MEREKA BAYANGKAN.BEGITU JUGA DENGAN KITA, KITA TIDAK SELALU TAHU APA RENCANA TUHAN BAGIKITA.KITA HANYA TAHU BAHWA JALAN-NYA BUKANLAH JALAN KITA, TETAPI JALAN-NYAADALAH YANG TERBAIK BAGI KITA, SELAMANYA...
TUHAN MEMBERKATI.

Tuhan Membebaskan Anda

“ Walau seribu orang rebah disisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu “ ( Mazmur 91: 7, 10).

Berbicara secara wajar, inilah dunia mengerikan tempat kita tinggal kini. Sebuah dunia yang sempoyongan karena pengaruh dari satu bencana ke bencana lain. Hampir setiap hari kita mendengar tentang peperangan, bahaya senjata nuklir dan perang senjata kimia, tumpahan minyak, dan gempa serta banjir, penyakit yang mewabah dan kejahatan yang melanda kota-kota kita.

Tetapi ditengah itu semua, Tuhan sedang berjanji menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kepada orang – orang yang mau percaya dan tinggal didalam DIA.

Anda mungkin berkata, “ DIA membuat janji ribuan tahun yang lalu ketika keadaannya tidak separah sekarang!”. Itu mungkin demikian, tetapi tahukan anda? Janji itu justru berlaku sekarang, itu dibuat untuk generasi kita. Renungkanlah, ketika Mazmur 91 ditulis, manusia belum menemukan senjata yang dapat membinasakan sepuluh ribu orang sekaligus. Kitalah generasi yang dapat melakukan hal itu. Jadi, bila Dia berkata “ Malapetaka tidak akan menimpamu,” Dia mencantumkan kita juga.

Malapetakan tidak akan menimpamu, Alangkah indahnya pernyataan itu!.Anda perlu memahaminya dan mempercayainya hari ini. Percayalah bahwa Tuhan mau menjadi Tuhan dalam hidup anda. Dia mau menjadi perlindungan anda, Dia mau menjadi keamanan anda. Dia mau menjadi Nama Pertama yang anda panggil bila kesukaran menimpa anda. Dia mau menjadi Pribadi yang anda percayai dan harapkan untuk mengamankan anda, Dia mau menjadi Andalan dalam setiap pergumulan hidup anda.
Dan jika anda melakukan hal itu, Dia tidak akan mengecewakan anda, Dia sanggup menangani semua bahaya yang mengelilingi anda. Betapa pun gawatnya bahaya itu, Dia dapat menanganinya! Dia telah membuktikan itu pada Sadrakh, Mesakh dan Abednego.Mereka diikat dan dilemparkan di tanur yang membara sedemikian panasnya sehingga orang – orang yang melemparkan ketiga pemuda itu ikut binasa oleh panasnya. Tetapi Tuhan menyelamatkan mereka dan ketika mereka keluar dari perapian itu, tiada bau sangit atau hangus tercium pada mereka.

Jadi betapapun dahsyatnya keadaan sekitar anda, Percayalah kepada TUHAN, Dia selalu setia. Dia takkan pernah melakukan hal lain ketika anda membutuhkan bantuan. Dia akan hadir tepat di tempat anda untuk membebaskan anda dari masalah, malapetaka, atau kehancuran apapun.

Izinkanlah Dia membuktikan dalam hidup anda, kebenaran yang telah dibuktikanNYA dalam hidup Sadrakh, Mesakh, dan Abednego : Tiada pribadi yang dapat membebaskan, melindungi, memberkati dan menyelamatkan anda seperti Dia ( TUHAN YESUS KRISTUS ), Amin.

Kamis, 16 Juli 2009

Dosis kasih yang Sehat

“ Kasih …tidak mudah tersinggung atau jengkel atau marah; tidak memperhitungkan kejahatan yang diterima – tidak menaruh perhatian atas kesalahan yang dideritanya “ ( 1 Korintus 13:5 terjemahan Amplifie Bible)

Berjalan dalam kasih itu baik untuk kesehatan Anda, tahukan Anda akan hal itu?.

Itu benar!, Ilmu kedokteran telah membuktikannya, para peneliti telah menemukan bahwa permusuhan menghasilkan strees yang menghasilakan Tukak lambung, sakit kepala yang menegangkan dan sejumlah sakit lainnya.

Bila anda berfikir tentang permusuhan, anda mungkin berfikir tentang jenis kemarahan yang anda rasakan tentang sesuatu yang serius terjadi. Tetapi menurut para pakar, jenis itu bukanlah penyebab masalah yang terburuk, Justru hal hal kecil : Bila Pembatu merusakkan busana anda ketika mencuci atau bila pramusaji mencampur sambal pada makanan anda padahal anda tidak suka pedas, hal itu lazim bukan..??

Pikirkanlah berapa banyak ketegangan yang dapat anda hindari dengan bersikap lekas memaafkan , dengan menghayati hidup anda menurut 1Korintus 13 dan tidak memperhitungkan kejahatan yang dilakukan terhadap anda. Bayangkan manfaaat fisik dan emosi dari kehidupan seperti itu!

Jika anda membiarkan diri terbiasa dibelenggu oleh permusuhan, itu mungkin terdengar seperti impian yang mustahil, tetapi sebenarnya tidak!, Karena sebagai orang yang percaya yang dilahirkan baru, anda memiliki kasih Tuhan dalam diri anda.

Jika anda pasrah pada kasih itu, maka itu akan memerdekakan anda, ingatlak ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kuburnya?, Lazarus hidup tetapi masih terikat dengan kain kafan. Tuhan Yesus memerintahkan agar ikatannya dilepas sehingga dia dapat bebas berjalan.

Yesus menginginkan kebebasan yang sama bagi anda. Jadi, bersepakatlah dengan Dia. Katakanlah pada kebiasaan maut yang mengikat anda , “ Dalam nama Yesus lepaskan aku dan biarkan aku pergi! Aku menaruh sikap permusuhan, sikap tidak memaafkan dan keserakahan di belakangku. Aku akan menghayati Kehidupan Kasih!”.

Ingatlah : Tidak diperlukan suatu mujizat pengobatan untuk mengubah kehidupan anda. Yang diperlukan hanyalah sebuah keputusan untuk pasrah pada kekuatan Kasih. Lakukan hal itu hari ini !, Amin

Selasa, 14 Juli 2009

Don't Fear Deeper Friendships

“For God did not give us a spirit of timidity, but a spirit of power, of love, and of self-discipline” (2 Timothy 1:7 NIV).

When we’re full of fear and anxiety, we don’t get close to each other. We back off from each other. We’re afraid of being rejected, manipulated, vulnerable, hurt, or used. All of these fears cause us to disconnect in life.

This fear is as old as humanity. When Adam and Eve sinned, and God came looking for them, Adam said, “I was afraid . . . so I hid” (Genesis 3:10 NIV). People have been doing that ever since. We’re afraid, so we hide. We hide our true selves.

We don’t let people know what we’re really like. We don’t let them see the inside of us. Why? Because if we let people know what we’re like and they don’t like it; we’re up a creek without a paddle. Tough luck. Why am I afraid to tell you who I am? Because if I tell you who I am, and you don’t like me, I’m in for it. I have no alternative. So we wear masks and we pretend.

Fear does three terrible things to relationships:

........
Read more
Click this link -> Friendships

Saat Memberi Saat Menerima

Saat engkau meneguhkan hati sahabatmu yang berada dalam ketakutan, sebenarnya engkau pun sedang menerima ketakutannya. Saat ketakutannya engkau terima, saat itulah juga, engkau mengganti ketakutannya dengan keberanianmu.

Saat isterimu mengandung anakmu, isterimu memberi makan janin itu lewat tali pusar dalam rahimnya; selama dalam kandungannya itulah, sebagai suami isteri, kalian sebenarnya menerima seorang manusia yang sudah pasrah total untuk diperlakukan apapun juga: mau serius dicintai, dirawat ataupun tidak! Itulah caranya seorang bayi dalam kandungan ibunya mencintai ibu dan ayahnya, bukan dengan memberi tapi menerima apapun perlakuan orang tuanya.

Saat engkau memberikan uang belanja kepada isterimu, saat itu jugalah engkau sebenarnya menerima kerendahan hati isterimu untuk diberi nafkah hidup.

Saat engkau merawat suami, isteri dan anak-anakmu yang sedang sakit, saat itulah juga engkau belajar menerima keterbatasan kesehatan mereka, sehingga engkaupun belajar kerepotan agar hidup tetap berlangsung.

Saat engkau marah kepada anak-anakmu, saat itu juga engkau menerima telinga anak-anakmu untuk mendengarkan kata-katamu dengan penuh kesabaran, walaupun menyakitkan sekalipun.

Saat engkau marah kepada pasangan hidupmu, dan karena itu dia diam, saat itu jugalah engkau menerima kesediaannya menerima kata-kata kasar, mungkin pedas, dan menyakitkan, sampai pasanganmu tidak sanggup untuk membalasnya.

Saat engkau dendam kepada orang serumah, sampai engkau tidak mau berbicara dengan mereka; saat-saat itulah engkau sebenarnya menerima kegelisahan mereka karena merasa tidak lagi dipercaya!

Saat engkau mengampuni pasangan hidupmu dan anak-anakmu setelah konflik akibat berbagai macam masalah, saat itu jugalah engkau menerima kegembiraan mereka karena masih dipercaya walaupun telah berbuat salah!

Saat engkau percaya pada saudaramu, bahkan menaruh harapan bahwa saudaramu dapat berkembang meski dia itu rapuh; saat itulah sebenarnya engkau menerima kerapuhannya menjadi milikmu, dan engkau memberikan harapanmu sehingga berkobar dalam hatinya!

Saat engkau memberi harapan kepada saudaramu, saat itu jugalah engkau melepaskan kacamata hitammu yang lama dan engkau mengganti dengan "kacamata baru" dari saudaramu. Saat itu jugalah engkau mengawali usaha untuk mengampuninya.

Saat Tuhan mengampunimu, saat itu jugalah engkau menerima kehendak bebas dari-Nya agar engkau merasa sungguh dipercaya untuk menentukan keputusanmu demi kepentingan- Nya, yakni kepentingan untuk mengasihi sesama seperti Ia mengasihi.

Saat engkau diampuni oleh Tuhan, saat itu pulalah dengan tulus, Tuhan menerima akibat dosa kita, agar hati kita ditukar dengan hati-Nya. Karena itu semoga hati kita tidak hanya menjadi seperti Hati Kristus yang mahakudus, melainkan akan "menjadi hati-Nya"!

Saat Kristus menjadi "jantung hati"-mu, saat itu jugalah Kristus menempatkan dirimu pada "Jantung Hati-Nya"

Kisah Sukses : George Muller

Suatu hari ketika hendak menyeberang, seorang nahkoda tidak berani menyeberangkan kapal karena badai. Lalu, seorang pengasuh yatim piatu mengajaknya turun kebawah untuk berdoa. Doanya sangat sederhana: "Tuhan, Engkau tahu hambaMu harus menyeberang untuk ,emjalankan tugas, Engkau tahu hambaMu tidak pernah tidak menepati janji, kiranya Tuhan meredakan badai." Ketika selesai berdoa, mujizat terjadi. Badai reda sehingga ia bersama penumpang lain dapat menyeberang. Pengasuh yatim piatu itu adalah George Muller. Kehidupan doa dan imannya telah menjadi inspirasi banyak generasi.

George Muller (1805-1898) adalah seorang misionaris kristen dan kepala dari sebuah rumah yatim piatu di Bristol Inggris. Selama hidupnya ia mengasuh 10,024 anak yatim piatu. Tidak hanya dikenal karena menyediakan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak asuhannya, tetapi juga karena ia telah meninggalkan teladan iman yang bergantung penuh pada pemeliharaan Allah. Hal ini nampak dari cara kerja dan kehidupan pribadinya.

Memberi hidup
Sebelum masuk sekolah teologia di universitas Halle, kehidupan Muller sangat berbeda. Lahir di sebuah desa di daerah Kroppenstedt, dekat dengan daerah Halbestadt, wilayah kerajaan Prussia (Jerman), sejak muda ia tidak mempunyai tujuan hidup yang baik. Ia adalah pencuru, pembohong, dan suka berjudi. Bahkan ibunya meninggal saat Muller sedang berjudi dan mabuk-mabukan bersama dengan teman-temannya. Pada waktu itu ia berusia 15 tahun.

Dengan motivasi yang kurang tepat, ayahnya memasukan Muller di pendidikan Theologia Universitas Halle. Jabatan rohaniawan saat itu merupakan incaran dan kedudukan yang bisa menghasilkan gaji besar, apalagi jika direkrut sebuah gereja milik negara.

Saat menempuh pendidikan disana, Muller bertemu dengan seorang rekan yang mengundangnya ikut dalam pertemuan kristen. Muller disambut baik dalam pertemuan itu. Selanjutnya dengan teratur ia membaca Alkitab dan berdiskusi tentang kekristenan dengan rekan-rekan lainnya di pertemuan tersebut. Akhirnya, hidup Muller berubah. Ia segera meninggalkan kebiasaan buruknya dan memberi hidupnya menjadi seorang misionaris.

Pada tahun 1828 Muller mendapatkan tawaran kerja di London Missionari Society. Memasuki tahun 1829, ia jatuh sakit dan sempat berpikir bahwa ia tidak dapat bertahan. Mujizat Tuhan menyembuhkannya. Ia kemudian mendedikasikan hidupnya untuk melakukan kehendak Tuhan. Ia langsung meninggalkan London Missionary Society dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyediakan apa yang ia butuhkan bagi pekerjaan Tuhan.

Institusi ini bertujuan membantu sekolah-sekolah kristen dan para misionaris serta membagikan Alkitab. Institusi inii tidak menerima dukungan dana dari pemerintah dan hanya menerima dukungan atau pemberian sukarela. Meski demikian, institusi ini menerima dan menjalankan 1,5 juta poundsterling (setara dengan 2,718,844 US dollar) pada waktu Muller meninggal dunia, yang dipergunakan untuk mendukung biaya rumah yatim piatu, penyebaran hampir 2 juta Alkitab, dan juga mendukung "misionaris iman" lainnya di seluruh dunia seperti Hudson Taylor.

Iman
Muller bersama dengan istrinya kemudian mengelola rumah yatim piatu pada tahun 1836 dengan menggunakan rumah mereka sendiri di kota Bristol. Awalnya rumah mereka digunakan untuk menampung 30 anak perempuan. Kemudian jumlah anak yatim piatu bertambah menjadi 130 anak sehingga membutuhkan 3 rumah.

Pada tahun 1845 terjadi peningkatan jumlah anak yatim piatu sehingga Muller memutuskan untuk membangun gedung yang baru dan dapat digunakan pada tahun 1849 dengan kapasitas akomodasi 300 anak. Jumlah anak ini terus bertambah hingga mencapai 2000 anak di tahun 1870 sehingga membutuhkan 5 rumah yang dapat menampung seluruh anak-anak tersebut.

Muller mengambil satu keputusan dimana ia tidak pernah meminta dukungan dana dari siapa pun dan tidak berhutang pada pihak manapun meskipun diperlukan lebih dari 100,000 poundsterling untuk membangun kelima rumah yang menjadi akomodasi 2000 anak.

Keyakinan yang kuat atau lebih tepatnya sikap percayanya yang kuat terhadap pemeliharaan Allah bagi kebutuhannya sejak 1829 membuat Muller dapat menyaksikan mujizat Allah dinyatakan melalui hidupnya. Seringkali ia menerima bantuan makanan yang datang tanpa diminta dan bantuan makanan itu hanya datang beberapa jam sebelum waktu makan anak-anak yatim piatu itu tiba. Peristiwa-peristiwa ini seperti menguatkan iman muller.

Setiap pagi setelah jam makan pagi, selalu diadakan waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa. Setiap anak diberikan sebuah ALkitab disaat mereka pergi meninggalkan rumah yatim piatu. Anak-anak yatim piatu itu diberikan pakaian yang baik dan pendidikan yang baik.

Muller telah membaca alkitab lebih dari 200 kali dan separuh dari waktunya dilakukan untuk berdoa. Ia mengatakan bahwa 50,000 jawaban doa yang khusus yang telah ia terima, berasal dari permohonan doanya hanya kepada Allah! lebih dari 3000 anak yatim piatu yang diasuhnya, dimenangkan bagi kristus melalui pelayanannya oleh penyertaan Roh Kudus

Keluarga Tangguh

Tidak ada keluarga yang kebal tehadap masalah. Bahkan keluarga terbaik pun. Namun tidak sedikit yang lelah menghadapi masalah dan memilih untuk menyerah dan memutuskan tali kekeluargaan, selingkuh dan cerai diantaranya. Mari kita belajar sebuah perspektif dari perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-24). Kalau kita perhatika ayat demi ayat, sebenarnya keluarga dari anak yang hilang ini penuh dengan berkat Allah.

Tidak kebal masalah
Pertama, keluarga ini diberkati secara jasmani, tidak kekurangan, dan hidup dalam kelimpahan. Banyak orang upahan yang dimiliki menunjukan bahwa perekonomian keluarga ini diatas rata-rata. Anak ini tumbuh dalam keluarga yang mapan, semuanya sudah tersedia dan berkelimpahan.

Kedua, keluarga ini penuh dengan kasih. Hal ini terlihat ketika ayahnya berlari menuju anak bungsunya yang kembali pulang. Ia merangkul dan memelukanya dengan hati terbuka. Padahal anaknya ini telah mendukakan hati ayahnya; meminta warisan sebelum waktunya, pergi foya-foya menghabiskan seluruh hartanya untuk kesia-siaan. Hal ini menunjukan bahwa sang ayah penuh dengan kasih dan pengampunan. Berarti anak ini juga tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih.

Ketiga, keluarga ini bukan keluarga pemurung. Ketika anak bungsu itu pulang, Ayahnya mengadakan pesta penyambutan. Seperti nya keluarga ini telah terbiasa untuk hidup dalam sukacita. Dan saya yakin anak ini dari waktu ke waktu menikmati sukacita dalam keluarganya. Lalu pertanyaannya, kalau keluarganya begitu baik, mengapa anak bungsu itu masih meninggalkan keluarganya?

Alasanya tidak akan kita bahas, karena semua jawaban terbuka. Tapi kita mau mengambil faktanya, bahwa anak ini mengambil keputusan untuk meninggalkan keluarganya. Ada kalanya keluarga sebaik apapun mengalami masalah. Tetapi meninggalkan keluarga atau memutus tali kekeluargaan bukanlaj jalan keluar menghadapi masalah. Hal itu justru akan menjerumuskan kita kedalam masalah yang lebih besar.

Pentingnya Keluarga
Pada mulanya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan memerintahkan mereka untuk beranak cucu. Dari sini kita tahu bahwa keluarga adalah inisiatif dan rencana Allah. Kalau tidak Allah mungkin meciptakan Adam dengan Adam, hawa dengan Hawa. Jika keluarga adalah inisiatif Allah, maka pasti ada berkat dan anugerah dari Allah. Keluarga adalah institusi luarbiasa yang Allah berikan bagi manusia.

Salah satu manfaat keluarga adalah tempat di mana kita di terima sebagaimana kita adanya. Jika diperusahaan umumnya. kita diterima atau tidak tergantung dari prestasi atau produktivitas. Jika produktif, perusahaan akan memelihara dengan memberikan bonus, insentif dan lain-lain. Tetapi jika kita melakuka kesalahan, atau kelemahan kita terungkap, maka kita dipecat.

Berbeda dengan keluarga. Saya pernah berjanji pada anak bungsu saya, jika ia berhasil meraih juara satu dikelas, saya akan membelikannya Nintendo Wii. Saya tahu dia anak yang sangat kompetitif. Benar saja, waktu kenaikan kelas, istri sanya mengatakan bahwa dia berhasil juara satu. Dia pun mendapat Nintendo Wii.

Namun, Pada tahun berikutnya, ia tidak juara satu lagi, bahkan di luar sepuluh besar. Pertanyaannya adalah, apakah saya sebagai ayah akan memecatnya sebagai anak? kebenarannya tetap sama, apakah ia juara satu atau juara sepuluh, ia tetap anak saya dan saya tidak dapat memecatnya.

Di dunia kita menerima banyak penolakan, di tempat kita bekerja, di komunitas, dan lain lain. Kita tidak bisa selalu mengalami penolakan karena akan menghancurkan jiwa kita. Namun ada satu tempat yang Tuhan sediakan dimana kita bisa terbuka dan tidak takut ditolak oleh orang disekitar kita, yaitu keluarga.

Kedua, keluarga adalah tempat bernaung ketika badai menerpa. Sebelum resesi, riset di singapura menunjukan bahwa keluarga merupakan prioritas kelima di bawah karier, rekreasi, dan lain-lain. Tetapi ketika diadakan riset kembali setelah resesi, hasilnya berubah, Keluarga menjadi prioritas utama.

Ketika badai datang, orang menyadari pentingnya keluarga. Ada tiga jenis manusia didunia ini: orang yang sudah, sedang dan yang akan mengalami badai kehidupan. Allah tahu ini, maka Dia menciptakan keluarga supaya kita bisa bernanung dan merasakan keamanan didalamnya.

Ketiga, Keluarga menentukan masa depan kita. Hidup saya sekarang ini, dan cara saya membuat keputusan, bergaul, dan berbisnis bukan mutlak pilihan saya sendiri, tetapi sebagian besar diturunkan oleh orang tua. Keluarga adalah institusi yang menentukan masa depan generasi berikutnya.

Ayah anak yang hilang itu begitu bersabar menanti anaknya kembali. Mungkin selama anaknya ada di negri orang, beliau tidak lupa untuk selalu mendoakan kesehatan dan kesejahteraannya. Ia tidak kecewa, apalagi kepahitan. Ia selalu membuka pintu rumahnya dan juga hatinya, jika suatu saat anaknya itu kembali.

Anaknya juga demikian. Ia menyadari kesalahnya, meminta ampun kepada Tuhan dan kembali kepada keluarganya. Akhirnya, Ayah dan anak yang hilang itu bertemu, dan hubungan mereka mengalami pemulihan. Kasih, penerimaan, pengampunan, dan pengakuan dosa selalu jalan terbaik menuju keluarga yang utuh, kuat, dan diberkati Tuhan.

Khotbah Pdt. Stephen Phang

Sabtu, 11 Juli 2009

Christian Quotations

"Our little time of suffering is not worthy of our first night's welcome home to Heaven."
- Samuel Rutherford

"I have been driven many times to my knees by the overwhelming conviction that I had nowhere else to go."
- Abraham Lincoln

"We turn to God for help when our foundations are shaking only to learn that it is God shaking them."
- Charles West

Dapatkan christian quotations lainnya dengan klik link ini
Christian Quotations

Tekanan Menghasilkan Kebenaran

Merasa “tertekan” memang merupakan sebuah ujian bagi hubungan kita dengan Tuhan, apalagi jika kata-kata umpatan yang keluar dari mulut kita. Itu bisa terjadi jika Anda meninggalkan saat teduh setiap hari dan hidup di dalam kekuatiran.

Tuhan menjelaskan bahwa, seperti pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik dan pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik, demikian pula kata-kata dan tindakan-tindakan kita itu akan menunjukkan keadaan rohani kita. Karena kata-kata yang kita ucapkan “keluar” dari hati kita (Lukas 6:45)

Jadi bagaimana kita dapat menghasilkan tuaian dari buah yang baik? Yesus mengatakannya dengan jelas: Tinggallah di dalam Aku. Lakukanlah segala sesuatu dengan kekuatan-Ku, bukan dengan kekuatan mu. Dia berjanji bahwa jika kita tinggal di dalam Dia, maka Ia akan memenuhi kita dengan Roh Kudus-Nya, dan hidup kita akan berbuah banyak. Ia berkata, “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:4-8).

Hal yang memalukan adalah ketika kita tertekan dan kemudian malah tenggelam di dalam kesedihan dan menangis mengasihani diri sendiri secara berlebihan. Anda mengeluarkan kata-kata yang kasar dari mulut Anda sehingga memutuskan hubungan Anda dengan orang lain karena menyebabkan ia sakit hati. Anda menjadi egois dan kasar. Itu adalah hal yang tidak baik. Hidup di dalam Tuhan artinya segala sesuatu termasuk kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, dapat digunakan-Nya untuk mendatangkan kebaikan.

Setiap kali kita tertekan, kita mempunyai kesempatan untuk bertumbuh. Namun, ketahuilah tekanan itu tidak akan pernah berhenti. Kehidupan akan selalu menghadirkan tekanan, stress, dan bencana. Tetapi ketika kita membiarkan kehidupan rohani kita dipelihara oleh Yesus, Pokok Anggur yang Benar, dan Bapa, Sang Pengusaha (Yohanes 15:1), maka tekanan itu akan mendatangkan hal-hal yang baru: kata-kata umpatan berubah menjadi kata-kata pujian; air mata kekuatiran berubah menjadi ketenangan dan pengharapan; sikap mau menang sendiri berubah menjadi sikap yang mau berkorban.

Dengan Roh Kudus yang senantiasa mengajar kita dan mendorong kita untuk lebih dekat kepada Tuhan, maka kita tidak hanya dapat belajar dari kesalahan saja, tetapi kita dapat mengalahkannya. Ketika kita tertekan, kita tidak lagi melukai orang lain atau mempermalukan diri kita sendiri.

Melainkan, hidup kita akan dipenuhi dengan keharuman dan kesegaran dari buah yang kita hasilkan. Kita akan menjadi saksi hidup bagi kuasa Tuhan yang ada di dalam hidup kita!

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (Yakobus 1:2-4).

Kamis, 09 Juli 2009

Don't Fear Authentic Relationships

“But if we live in the light, as God is in the light, we can share fellowship with each other. Then the blood of Jesus, God’s Son, cleanses us from every sin. If we say we have no sin, we are fooling ourselves, and the truth is not in us” (1 John 1:7-8 NCV).

Authentic fellowship is not superficial, surface-level chit-chat. It’s genuine, heart-to-heart, sometimes gut-level sharing.

Read more......


BUAH ROH: SUKACITA

“Dan kamu telah menjadi penurut kami (Paulus dan rekan-rekan) dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,” 1 Tesalonika 1:6

Apakah Saudara bersukacita setiap hari? Atau malah sebaliknya, murung dan bersedih sepanjang hari karena beban yang begitu berat dan situasi-situasi sekitar yang mempengaruhi kondisi hati sehingga kita tidak bisa bersukacita? Sudah pernah disinggung melalui renungan ini bahwa sukacita seseorang itu pada umumnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya, pertama: situasi dan orang-orang yang ada di sekitar. Kita harus ingat bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa untuk mengendalikan keadaan yang ada di sekitarnya, tapi kita bisa mengendalikan suasana hati kita. Jangan sampai situasi mempengaruhi hati dan merampas sukacita kita. Kedua: harta kekayaan (uang). Seringkali sukacita seseorang bergantung pada banyak/sedikitnya uang atau harta yang dimiliki seperti tertulis: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21).

Sukacita adalah bagian dari buah Roh. Tuhan ingin agar hidup kita penuh dengan sukacita. Seperti buah-buah Roh yang lain, sukacita ini bukan sesuatu yang dapat kita hasilkan sendiri, tapi datangnya dari Tuhan yang adalah sumber sukacita sejati. Sukacita ini datang dari Roh Kudus dan tidak tergantung pada keadaan; tetap bersukacita sekalipun berada dalam penderitaan, aniaya, sakit-penyakit, kecewa atau kesedihan yang luar biasa. Kata yang digunakan Paulus untuk sukacita adalah chara, yang artinya sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus atau sukacita karena Tuhan. Jemaat di Tesalonika tetap bersukacita meskipun mereka sedang dalam penindasan dan aniaya. Untuk bersukacita di tengah situasi seperti itu, secara manusia, sulit dilakukan!

Kunci untuk memiliki sukacita sejati adalah harus melekat kepada Tuhan. “Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yohanes 15:10-11).

Sukacita dari Tuhan memampukan kita tetap bertahan melewati badai hidup!

BUAH ROH: PENGUASAAN DIRI

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.” 1 Korintus 9:25

Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? Ada dua kata Yunani yang diterjemahkan sebagai penguasaan diri yaitu EN KRATOS. En berarti di dalam dan kratos berarti kekuatan atau kuasa. Seseorang yang memiliki penguasaan diri adalah orang yang memiliki kekuatan di dalam dirinya. Jadi, penguasaan diri adalah salah satu kemampuan terbesar yang dapat kita miliki. Kemampuan ini akan berkembang ketika kita senantiasa dekat dengan Tuhan Yesus.

Penguasaan diri bagi orang Kristen menunjukkan tingkat kedewasaan rohaninya, yang tidak hanya dalam satu aspek saja, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan; suatu karakteristik mampu menahan diri secara moral terhadap segala godaan dan segala kenikmatan dosa. Ada tertulis: “...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” ( Galatia 5:16). Selama kita hidup, keinginan daging adalah bagian dari kehidupan kita dan satu-satunya cara mengendalikannya adalah dengan hidup menurut Roh. Banyak orang sangat kecanduan terhadap seks, situs-situs porno, televisi, atau aktivitas-aktivitas lain yang menguasai dirinya begitu rupa. Penulis Amsal berkata, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28). Menjadi orang yang bisa menguasai diri dalam segala hal adalah sebuah proses, tidak semudah membalik telapak tangan. Penguasaan diri dan disiplin diri adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan! Paulus menggambarkan hidup sebagai arena pertandingan, di mana kita harus berjuang dan bisa menguasai diri dalam segala hal agar dapat mencapai garis finis dan memperoleh hadiah yang disediakan. Disiplin diri adalah hal penting dalam pertandingan hidup ini. Jangan biarkan kesalahan masa lalu dan godaan-godaan lain menghalangi langkah kita mencapai kemenangan..

Mari, ijinkan Roh Kudus mengendalikan hidup kita. Bila kita hidup oleh Roh, kita akan menaati firmanNya dan menghindari situasi di mana kita lemah. Roh Kudus yang diam dalam diri kitalah yang akan menolong kita ketika kita bertempur melawan segala macam bentuk godaan dosa. Jadi bukan upaya kita sendiri!

“orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota .” Amsal 16:32b

Selasa, 07 Juli 2009

God Designed You to Work

“For we are God’s workmanship, created in Christ Jesus to do good works, which God prepared in advance for us to do” (Ephesians 2:10 NIV).

Your work can be an act of worship. No matter what you do, it’s never just a job if you are a believer. This is because God designed you with talents, gifts, and interests that He wants used for his glory.

Read more......

Hadapi dan Kalahkan Masalahmu

Masalah dapat tiba-tiba datang dalam kehidupan kita, tetapi sudah waktunya kita berdiri, menghadapi dan mengalahkannya. Kita dapat belajar dari Raja Yosafat yang ketika itu sedang mengatur bangsanya. Tiba-tiba dia mendengar 3 kekuatan bani Amon dan bani Moab dan sepasukan orang Meunim akan maju hendak menghancurkan Israel. Yosafat yang takut mendengar berita ini memutuskan untuk mencari Tuhan.

Bagaimana sikap kita pada waktu menghadapi masalah?

1. Jangan takut dan terkejut (2 Tawarikh 20:15)
Artinya: Hadapi saja masalah itu karena Tuhan menyertai kita. Tuhan akan memberikan kemenangan, terobosan, mujizat, membuka jalan bagi kita. Ia akan memulihkan kita, hanya apabila kita mau menghadapi masalah kita. Tuhan begitu yakin dan percaya bahwa kita akan menang karena Tuhan TELAH melakukan bagian-Nya untuk membuat kita menang, dengan mati di kayu Salib! Yesus mengatakan ”SUDAH SELESAI”. Kalimat ini tertulis dalam Yohanes 19:30, dikonfirmasi lagi di kitab Wahyu 16:17.

Masalah memang harus kita hadapi. Ini bagian yang harus kita lakukan. Masalahnya adalah “Apakah engkau percaya?” (Markus 9:14-24). Karena bagi orang yang percaya, segala sesuatu adalah mungkin! Kita harus percaya bahwa kita bisa keluar dari masalah itu dan keadaan bisa berubah.. Ada mujizat yang bisa terjadi dalam hidup kita. Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa masalah tidak sama dengan Tuhan! Artinya Tuhan lebih besar dari masalah kita!

2. Ada kuasa dalam kesepakatan (Matius 18:19)
Kita harus sepakat dan berada di pihak Tuhan. Kita harus sepakat dengan Tuhan dalam pikiran, perkataan dan tindakan kita. Apapun keadaan yang sedang kita hadapi, ingat dan sepakat dengan janji firman Tuhan. kita harus hidup dengan kesadaran bahwa kita adalah PEMENANG yang penuh dengan berkat dan kemurahan Tuhan! Jangan pikirkan masalahnya tetapi fokus kepada apa yang Tuhan akan lakukan bagi kita (Ibrani 12:2). Percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Tuhan. Apabila kita tunduk kepada Tuhan, maka masalah tidak ada pilihan lain selain pergi dari hidup kita (Yakobus 4:7). Tuhan tidak pernah merancang kita untuk lari dari masalah kita. Tuhan telah memberikan senjata peperangan dimana semua itu untuk melindungi tubuh bagian depan kita! Jadi apabila kita melarikan diri, tidak ada senjata Tuhan yang akan melindungi tubuh bagian belakang kita (Efesus 6:14-17).

Ibrani 10:38-39
Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Jatuh itu Anugerah

Ulangan 32:11-12
Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 83; Roma 11; Ulangan 13-14

Rajawali adalah burung yang terkenal dengan ketangguhannya menghadapi badai, kekuatan sayapnya yang mampu terbang tinggi, dan ketajaman inderanya saat mengejar mangsanya. Semua kekuatan yang didambakan burung mana pun sepertinya dimiliki oleh burung rajawali. Namun kekuatan terbang burung rajawali tidak datang dengan sendirinya.

Rajawali selalu membangun sarang di pohon yang tinggi di puncak bukit yang tinggi dan terjal. Ketika anak-anak rajawali lahir, induk rajawali menjaganya dengan segenap hidup mereka. Semua kebutuhan anak-anak bayi rajawali dipenuhi oleh induknya. Dengan kata lain, bayi rajawali kecil tahu beres akan hidupnya dan tidakdikuatirkan oleh apa pun juga.

Tapi ketika tiba saatnya bagi anak rajawali untuk belajar terbang, ‘tanpa perasaan' induknya akan menjungkirbalikkan sarang yang selama ini menjadi tempat berlindung yang nyaman baginya. Tidak tanggung-tanggung, rajawali kecil itu akan terjun bebas beribu-ribu meter menuju batu-batu tajam yang ada di bawahnya. Dalam kepanikannya, ia akan berusaha mengepak-kepakkan sayapnya. Dan di detik terakhir sebelum ia menghujam batu-batu tajam itu, induk rajawali dengan sigap menyambar anaknya, membawanya terbang tinggi ke angkasa, dan menjatuhkan anaknya kembali. Hal ini dilakukannya berulang-ulang sampai sayap anaknya menjadi cukup kuat dan akhirnya ia mampu terbang sendiri.

Pada awalnya mungkin saja anak-anak rajawali itu tidak mengerti maksud dari ‘kekejaman' induknya. Tapi ketika induknya melakukannya berulang-ulang, ia pun mengerti dan menikmati proses belajarnya sampai akhirnya ia bertumbuh menjadi rajawali yang perkasa, sama seperti induknya.
Demikian juga dengan hidup kita. Saat kita masih menjadi bayi-bayi rohani, seringkali kita mendapati segala kebutuhan dan keinginan kita terpenuhi dengan instan. Tapi ada saatnya ketika kegoncangan itu datang dan kita terjun bebas, sadarilah bahwa saat itu Allah sedang melatih Anda untuk terbang. Karena kerinduan Tuhan yang terbesar adalah melihat Anda menjadi kuat dan bertumbuh dalam pengenalan yang lebih dalam akan Dia. Tidakkah Anda sadari justru di saat kesesakanlah kita mengalami keperkasaan Allah kita secara nyata?

Jatuh itu anugerah.
Nikmati dengan penuh ucapan syukur dan jadilah kuat.

Sabtu, 04 Juli 2009

Work to Please God, Not People

“Whatever you do, work at it with all your heart, as though you were working for the Lord and not for people” (Colossians 3:23 TEV).

The apostle Paul teaches that we are to work as though we are “working for the Lord and not for people.” He’s saying that no job is too small; no job is too menial; no job is too insignificant when you have the right motive and perspective. We should think, “I’m doing it for God; I’m doing this job as if I’m doing it for the Lord.” I used to clean meat lockers in a butcher shop, and I would clean them as unto the Lord.

Read more......

PANDANGLAH KEPADA YESUS

Ibrani 12:2, "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah."

Apakah maksudnya memandang kepada Yesus? Cobalah kita berpikirkan hal-hal demikian: jika Anda sedang tenggelam dan seseorang lewat begitu saja, janganlah pandang dia. Lihatlah kepada Yesus. Ketika Anda memandang orang itu, Anda akan mengharapkan dia untuk menyelamatkan Anda.

Dalam hal yang sama, jika Anda memandang kepada Yesus mengharapkan Dia menyelamatkan, menyembuhkan dan melindungi Anda karena Anda mengetahui kuasa dan pengorbanan kasih-Nya bagi Anda. Firman Tuhan berkata "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, " Inilah hidup yang dikehendaki Tuhan.

Apabila Anda mengalami migrain, pandanglah kepada Yesus. Lihatlah Dia sedang mengambil migrain Anda dan menanggungnya di atas tubuh-Nya di kayu salib dan berkata, "Tuhan, Bersyukur oleh bilur-bilur- Mu aku sudah disembuhkan. " (Yesaya 53:5), jika Anda terus memandang Yesus, Sang Penyembuh Anda, dengan cara demikian maka migrain itu akan bertekuk lutut kepada karya-Nya yang telah selesai di kayu salib!

Jika Anda mengalami masalah dalam keuangan dalam hidup Anda, cukup pandanglah Yesus dengan penuh keyakinan, berharaplah agar Dia memenuhi kebutuhan Anda menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dan akan membebaskan Anda dari masalah keuangan.

"Tetapi Pak Pendeta, Apakah sesederhana itu? Saya cukup memandang kepada Yesus dan Dia akan memberkati keuangan saya?

Ya memang sangat sederhana. Masalahnya dengan kita adalah bahwa kita cenderung melihat kepada diri kita sendiri. Tetapi kenyataannya kita tidak dapat menyelamatkan dan membebaskan diri kita sendiri. Bahkan Rasul Paulus pun bergumul ketika ia bergantung dengan kekuatan usahanya sendiri. Itulah sebabnya ia berkata,"Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19) namun ketika Rasul Paulus mengabaikan dirinya sendiri dan memandang kepada Yesus Dia menerima kelepasan. Rasul Paulus berkata: "AkU, manusia celaka! Siapakah yanga akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (Roma 7:24-25)

Inilah waktunya untuk mengarahkan fokus perhatian kita kepada Yesus Kristus, Dialah yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Inilah waktunya untuk mengalihkan fokus perhatian dari diri kita sendiri kepada Yesus. Jika menaruh perhatian kepada apa yang telah dilakukan Yesus di kayu salib maka kita akan melihat dan mengalami kesembuhan dan kelimpahan dalam kasih dan anugerah-Nya.

Mau Diproses

Besi hanya dapat menjadi pisau setelah ia mau ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar dalam api panas ratusan derajat celcius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin rebut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan, hingga ia menjadi pemandangan yang indah dan dapat menjadi tempat perteduhan bagi makhluk hidup yang lain. Sebatang rotan dapat menjadi kursi atau perabot yang indah hanya karena ia mau ditebang, di bersihkan, dijemur dibawah sinar matahari, digoreng dalam penggorengan yang sangat panas, dipotong-potong kecil, difinishing hingga ia menjadi berguna dan diletakkan di ruangan tamu. Jika tidak bayangkan rotan hanya akan hidup dalam hitungan waktu dan kembali menjadi tanah tanpa memiliki nilai yang berarti.

Manusia akan menjadi berarti hanya ketika ia mau dibentuk dan diproses oleh tangan Sang Mahakarya. Sebab sejak awal, semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan sekalipun sebagai ciptaan yang termulia. Dosa telah membuat gambar diri manusia menjadi rusak, karena itulah jika manusia tidak dibentuk oleh Tuhan maka hidupnya akan menjadi sia-sia dan tak berarti. Saat sedang dibentuk rasanya sakit dan tidak enak, saat Tuhan mengijinkan karakter kita dihancurkan, kesombongan kita ditekan, bahkan saat harga diri yang kita anggap mulai diinjak-injak. Ketika kita sadar dan mau mebuka hati untuk pembentukan itu, maka kita akan menjadi manusia yang berkenan dan layak id hadapan Allah, karena Yesus telah mengembalikan kemuliaan itu bagi kita.

Maukah kita menjalani proses demi proses dalam hidup ini dengan tetap berpegang pada firman dan kebenaranNya?

Untuk menjadi berarti, kita harus mau melewati proses, tidak ada yang terjadi dengan sendirinya.

“Siapakah kamu, hai manusia maka kamu berbantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya : “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”
( Roma 9:20 )

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca