Sabtu, 28 Januari 2012

Yang Sakit Siapa?

1 Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 28; Matius 28; Keluaran 5-6

Suatu saat seorang kawan mengajak saya untuk menjenguk seorang bapak yang sedang dirawat dalam kondisi kritis. Kami berjanji bertemu di lobi rumah sakit. Ketika kami bertemu, dia bercerita bahwa bapak itu mempunyai penyakit di pencernaan dan menurut tim dokter, kondisinya sudah tidak ada harapan. Ia masih bertemu dengan bapak tersebut dua minggu yang lalu dalam keadaan sehat, sehingga ia sangat terkejut ketika mendengar kabar bapak tersebut sakit parah. Ketika kami bertemu bapak yang dirawat, saya mendapatinya dalam kondisi tubuh yang kritis, tapi kondisi hati yang tenang. Ketika kami akan pulang, ia berbicara dengan perlahan, "Hati-hati di jalan!" Berbeda dengan kawan saya yang mengkhawatirkan kondisinya dan merasa ada gangguan dalam tubuhnya sendiri. Sungguh suatu keadaan yang ironis, orang sakit dalam kondisi yang tenang, sementara yang sehat dalam kondisi ‘sakit'.

Sebagai seorang pengikut Kristus, kita harus sadar dengan kondisi kita sendiri. Jangan melihat kondisi diri yang baik-baik saja di dalam kondisi yang buruk, tapi menilai orang lain lebih buruk dari keadaan yang sebenarnya. Hendaklah kita bercermin kepada Kristus dan mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Lakukan cek kesehatan rohani secara teratur agar Anda tidak mengalami sakit parah!

Jumat, 27 Januari 2012

Siapakah Aku?

Matius 16:15
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 27; Matius 27; Keluaran 3-4

Biasanya, ketika ditanya siapa kita, jawaban yang diberikan berkisar sekitar tempat lahir, pekerjaan, pendidikan dan prestasi hidup. Identitas kita seakan-akan tidak dapat terlepas dari prestasi atau status sosial. Apalagi budaya kita sering mengaitkan prestasi seseorang dengan materi: mobil yang dipakai, status lajang/menikah atau bahkan prestasi anak di sekolah. Ketika kita tidak "mempunyai apa-apa", kita seakan-akan menjadi nobody.

Sepanjang sejarah pelayanan Tuhan Yesus, beberapa kali Dia ditanya mengenai identitas-Nya. Di lain kesempatan, orang saling bertanya dan memperbincangkan siapa Kristus. Mereka juga meragukan ke-Tuhanan-Nya hanya karena Dia sekedar anak tukang kayu dari Nazaret. Pertanyaan, perdebatan, pengakuan maupun penolakan mengenai siapa Kristus tidak pernah habis sejak dua ribu tahun lalu.

Bila pertanyaan siapa Kristus dan mengapa mempercayai-Nya diajukan kepada kita, apa jawaban kita? Apakah Dia betul-betul tak tergantikan? Bila Dia memberikan kesembuhan, bukankah dokter modern atau ahli penyembuhan alternatif pun bisa melakukannya? Bila Dia mampu memberikan materi, mengapa dengan bekerja keras, pendidikan tinggi atau warisan lebih kita rasakan sebagai jaminan yang menjanjikan? Seandainya Tuhan Yesus tidak memberikan pekerjaan, materi, kesehatan, penampilan fisik yang baik, pasangan hidup atau anak pada kita, siapakah Kritus bagi kita?

Temukan identitas Kristus dalam hidup Anda, seberapa pentingkah Ia untuk Anda?

Kamis, 26 Januari 2012

Melihat Dengan Iman

Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 26; Matius 26; Keluaran 1-2

Tantangan hidup yang terjadi di sekitar kita sering tanpa sadar mempengaruhi dan membentuk kehidupan rohani kita. Apa yang terlihat oleh mata kita, terdengar oleh telinga kita, menyita begitu banyak perhatian sehingga energi kita habis hanya untuk berkutat memikirkan masalah yang tidak ada habisnya. Sebagian orang memutuskan untuk menghadapi tantangan itu meski tidak tahu tujuan akhirnya. Sebagian lagi memilih untuk menyerah, frustasi, marah, kecewa dan masih banyak lagi reaksi negatif lainnya.

Di antara kita mungkin pernah mengalami situasi seperti itu. Anda lelah dengan pergumulan yang bertubi-tubi menggempur kehidupan Anda. Mungkin ekonomi Anda yang mulai terpuruk, keluarga yang tidak lagi harmonis maupun sakit penyakit yang menggerogoti tubuh. Ingatlah, Alkitab mengingatkan kita agar menghadapi kehidupan ini dengan pendekatan iman dan bukan dengan kalkulasi matematis. Ibrani 11:1 menjelaskan iman kekristenan mengandung unsur harapan dan bukti akan segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kita. Pandangan mata seringkali menipu dan membuat kita lupa kuasa Allah yang besar, padahal yang dilihat tidak seperti yang tampak. Jadi mulailah belajar melihat dangan kacamata iman, Anda akan dibawa kepada kebenaran yang sejati.

Gunakan iman Anda, maka kuasa-Nya akan nyata dalam hidup Anda!

Rabu, 25 Januari 2012

Insomnia

Mazmur 127:2
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 20; Matius 20; Kejadian 39-40

Menurut pakar kesehatan Kristen, Don Colbert, M.D., salah satu rahasia hidup sehat dalam Alkitab adalah tidur. Tidur nyenyak yang cukup (tujuh sampai sembilan jam sehari) akan memulihkan tubuh, meningkatkan sistem kekebalan dan mengembangkan fungsi otak. Sebaliknya kurang tidur akan memicu hormon kortisol yang membuat orang gampang stress, depresi dan gelisah. Tidak heran, di tengah-tengah rasa frustasi Elia ketika dikejar oleh Izebel, Tuhan pertama-tama memberikannya kesempatan untuk "berbaring dan tidur" (I Raja-Raja 19:5) sebelum menyuruhnya berjalan ke Gunung Allah.

Tapi di tengah-tengah kompetisi dunia kerja yang kian mengila, Anda mungkin beranggapan bahwa tidur nyenyak sudah menjadi barang mewah yang sulit didapat. Insomnia (penyakit sulit tidur) terbukti kerap menyerang mereka yang jadwal kerja hariannya terpapar stress tingkat tinggi. Ini akan menjadi awal lingkaran setan di mana stress menyebabkan insomnia dan insomnia menyebabkan stress menjadi lebih akut sehingga akhirnya berujung pada penyakit fisik dan mental (tekanan jiwa, diabetes, tekanan darah tinggi, dll).

Rahasia tidur nyenyak sebetulnya sederhana. Bukan obat tidur, bukan aromaterapi atau hipnoterapi, tapi penyerahan diri total kepada Tuhan. Di tengah-tengah kekalutan dan bahaya yang mengancam, Daud bisa berkata, "Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman" (Mazmur 4:9). Anda juga bisa meniru Daud.

Tinggallah di dalam TUHAN, di sana ada kedamaian.

Selasa, 17 Januari 2012

Status Quo

Matius 7:11
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 17; Matius 17; Kejadian 33-34

Dalam film High School Musical produksi Disney dikisahkan seorang kapten basket yang ingin mencoba ikut audisi drama musikal di sekolahnya. Semua temannya tidak setuju, "Buat apa mencoba sesuatu yang baru? Sudahlah, kamu main basket saja. Stick to the status quo." Celakanya prinsip ini bukan hanya dianut siswa SMA dalam film, tapi juga oleh para profesional Kristen yang malas keluar dari zona nyaman.

Namun hal ini tidak berlaku pada Akhsa, anak perempuan Kaleb, pahlawan iman Israel. Ketika ayahnya memberikan hadiah sebidang tanah gersang pada Otniel, suaminya, Akhsa tidak lantas menjadi puas. Tanah gersang baru bisa diolah dan menghasilkan jika ada air. Maka Akhsa meminta hadiah ganda pada ayahnya: "Telah kau berikan kepadaku tanah yang gersang, berikanlah juga kepadaku mata air" (Yosua 15:19). Ingat, ini terjadi pada jaman di mana perempuan Israel sama sekali tidak mempunyai hak untuk memiliki tanah, tapi Akhsa berani mengambil resiko dan ia akhirnya memperoleh dua mata air sekaligus.

Jika pekerjaan Anda terasa bagaikan "tanah gersang", sekarang saatnya Anda minta "mata air" dari Tuhan. Hal ini pasti menuntut Anda keluar dari status quo. Mungkin Anda terpaksa mengubah perspektif, sikap atau malah tempat kerja Anda. Tapi hanya dengan begitu maka Anda dapat mengubah pekerjaan Anda yang "gersang" menjadi "ladang subur" yang penuh berkat.

Stop berkubang dalam status quo!

Minggu, 15 Januari 2012

Berkat Tuhan

Mazmur 133:1
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 16; Matius 16; Kejadian 31-32

Mazmur 133 adalah mazmur yang indah dan berisi banyak hikmat. Mazmur ini berkata bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya bilamana kita hidup rukun bersama. Tuhan Yesus, pada akhir hidupnya, berdoa agar kita - semua orang yang percaya - dapat bersatu. Hidup dalam kerukunan atau kedamaian merupakan syarat yang penting untuk menerima dan menikmati berkat Tuhan. Mengapa?

Orang yang tidak dapat hidup rukun dengan sesamanya tidak mugkin dapat hidup rukun dengan Tuhan. Bila hidup kita dengan sesama dipenuhi dengan konflik, maka hati kita akan penuh dengan luka dan kepahitan yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Surat Petrus berkata bahwa ketidakrukunan antara suami dan istri dapat menjadi penghalang doa. Tuhan Yesus juga memerintahkan agar kita terlebih dahulu membereskan hubungan kita dengan sesama sebelum kita datang kepada-Nya untuk memberikan persembahan kita.

Kerukunan menghasilkan kebahagiaan. Ini adalah berkat Tuhan yang terbesar dalam hidup sebab setiap orang ingin berbahagia. Bila kita ingin berbahagia, kita harus belajar untuk hidup rukun dengan sesama. Yesus, Raja Damai itu, ingin bersemayam di dalam hati yang dipenuhi dengan kedamaian.

Pintu berkat Tuhan akan terbuka ketika Anda hidup dalam kerukunan.

Sumber : 365 Perjalanan Bersama Tuhan, Jeanne Handojo

Sabtu, 14 Januari 2012

Sejauh Timur Dari Barat

Mazmur 103:10
Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 15; Matius 15; Kejadian 29-30

Pengarang lagu Jonathan Pawira meramu ayat renungan kita hari ini dalam sebuah lagu lama yang sangat terkenal: Sejauh Timur dari Barat. Lagu ini menguatkan banyak orang, terutama ketika seseorang bertobat dari cara hidupnya yang lama. Walaupun banyak orang tidak mengetahui apa yang telah dilakukan, namun kita menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Perasaan bersalah, malu, takut, cemas, hingga tidak layak, memenuhi rongga hati, setiap kali kita memutuskan memasuki hidup yang baru.

Daud mengalami hal yang sama. Ketika ia jatuh dalam dosa perzinahan dengan Betsyeba, perasaan itu jugalah yang menghantuinya. Alkitab mencatat, Daud mengalami sebuah peperangan batin yang sangat hebat dan memasuki masa perkabungan yang panjang. Mazmur ini ditulis Daud sesaat ketika ia menyadari, bahwa Allah sangat mengasihi anak-anak-Nya sehingga "tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam". Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita".

Yang lebih ajaib lagi adalah Allah sanggup masuk dalam setiap keburukan akibat dosa, dan mengubahnya menjadi kebaikan. Dari Betsyebalah, Daud justru mendapatkan Salomo, yang kelak menggantikannya menjadi raja atas Israel, dan membawa mereka masuk ke dalam zaman keemasan. Bahkan, dari garis keturunan inilah Mesias dilahirkan. Jadi, jangan pernah ragu melangkah dalam hidup baru, karena "Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya kita daripada pelanggaran kita."

Mengucap syukurlah atas kebaikan yang diberikan Tuhan kepada kita.

Jumat, 13 Januari 2012

Kuberikan Semuanya

Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 14; Matius 14; Kejadian 27-28

Suatu ketika ada seorang pengusaha susu hendak membeli seekor sapi dari peternak. Lalu pengusaha ini setelah melihat-lihat bentuk dan perawakan sapi yang ada tertarik dengan salah seekor sapi betina yang dirasanya cukup baik. Lalu ia menanyakan mengenai tingkat kesuburan sapi betina ini. Peternak tua itu menjawab tidak tahu karena ia tidak pernah mengetahui cara mengukur kesuburan sapi itu. Lalu pengusaha ini melanjutkan pertanyaannya mengenai kandungan lemak dalam susu yang dihasilkan. Lagi-lagi peternak ini tidak bisa menjawabnya.

Akhirnya pengusaha ini menanyakan jumlah susu yang dihasilkan sapi ini dalam satu tahun, dan lagi-lagi peternak tua ini tidak dapat menjawabnya. "Saya tidak penah menghitung jumlah susu yang dihasilkan sapi betina ini, yang saya tahu sapi betina ini sangat jujur, ia memberikan semua susu yang dihasilkannya dan tidak pernah ia mencurangiku dan menyimpannya sendiri." Terkesan oleh jawaban peternak, sapi betina itu pun jadi dibeli oleh pengusaha ini.

Kita mungkin tertawa oleh jawaban si peternak di atas, tapi seringkali kehidupan kita dinilai oleh Tuhan seperti yang peternak itu lakukan. Sudahkah kita memberikan maksimal dari apa yang kita miliki (potensi)? Seringkali dalam pekerjaan kita, sikap bekerja sekenanya dan asal-asalan kita lakukan. Kita masih menyimpan untuk keuntungan diri sendiri. Tidak seperti sapi betina tadi, ia memberikan semuanya dan tidak mencurangi pemiliknya.

Tuhan memberikan Anda potensi untuk dimaksimalkan dan dipakai dalam pelayanan yang sejati.

Senin, 09 Januari 2012

Waiting For Second Chance

Ibrani 12:17
Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 9; Matius 9; Kejadian 17-18

Sebuah pepatah China kuno berbunyi, "You cannot jump into the same water". Ini berbicara mengenai waktu yang terus berjalan sebagaimana aliran sungai, jadi ketika kita meloncat ke dalamnya tidak mungkin diulangi lagi dengan air sungai yang sama, meskipun tampaknya sama tetapi air yang melaluinya telah berbeda, air yang sebelumnya telah mengalir jauh ketika kita melakukan lompatan kedua. Demikian juga dengan waktu dan kesempatan dalam kehidupan kita. Ketika kita melewatkan satu kesempatan, yang satu itu tidak akan pernah kembali. Waktu atau kesempatan yang telah lewat tidak mungkin kembali, yang ada adalah waktu dan kesempatan yang baru dan berbeda. Tetapi apakah ada suatu jaminan jika kesempatan yang baru itu (beberapa orang senang menyebutnya sebagai Second Chance) pasti akan ada lagi?

Sebagai orang yang bergerak di market place tentulah mengerti prinsip ini, tidak semua hal ada babak duanya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin diulang. Pilihan yang sudah diambil menyisakan dampak atau implikasinya, tanpa kepastian adanya kesempatan lain untuk memperbaiki kesalahan atau kecerobohan dari apa yang telah dibuat, ataupun untuk melakukan sesuatu yang terlewatkan sebelumnya.

Jadi bagaimana dengan kinerja kita sekarang setelah menyadari prinsip ini? Masihkah kita membuang-buang waktu dan menggunakannya secara asal-asalan? Ataukah ingin berkarya maksimal? Tapi ingatlah, apapun yang kita lakukan dengan waktu ini akan kita pertanggungjawabkan pada Tuhan.

Lebih baik lakukan yang benar pada kali pertama daripada berharap memperbaikinya di lain hari.

Sabtu, 07 Januari 2012

Peace Maker

Matius 5:9
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

Konflik tentu sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja. Keberadaan konflik ini memang akan sangat mengganggu terutama dalam bagian yang membutuhkan kerjasama di antara para karyawannya. Seringkali konflik timbul karena di tempat kita bekerja terdapat orang yang cenderung sebagai pembawa masalah. "Trouble Maker" ini tidak berarti orang tersebut yang membuat masalah dengan orang lain ataupun mencari gara-gara, tetapi lebih menjurus pada pribadi yang mendorong terjadinya kondisi konflik.

"Pengadu" inilah istilah yang lazim digunakan bagi mereka. Selain memiliki kecenderungan untuk menceritakan semua masalah pada setiap orang, dan apa yang dikatakannya itu seringkali mendatangkan konflik di antara orang-orang di sekitarnya. Mungkin apa yang diceritakan bukanlah dusta dan benar adanya, tetapi "Pengadu" ini memanfaatkan hal ini untuk menunjukkan keburukan atau kesalahan orang lain dan menempatkan dirinya di posisi yang lebih baik dan atau meninggalkan kesan baik tentang dirinya.

Tanpa sadar seringkali orang percaya yang katanya memiliki nilai-nilai yang lebih baik, terjerumus dalam perkara seperti ini. Kita sering menceritakan mengenai keburukan-keburukan orang lain, bahkan membocorkan rahasia dan kesalahan rekan kerja kita. Bukan berarti kita harus selalu tutup mulut, tetapi kita harus menguji alasan kita melakukan "pengaduan" ini. Untuk meninggikan diri? Untuk menjelekkan posisi orang lain? Atau memang untuk alasan yang benar dan sangat perlu untuk dilakukan. Profesional, bukankah kita dipanggil menjadi pembawa damai?

Kasih menutupi banyak pelanggaran.

Jumat, 06 Januari 2012

Karunia Berpikir

Filipi 4:8
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 6; Matius 6; Kejadian 11-12

Dalam beberapa hal manusia tidak lebih unggul daripada binatang. Saya telah menyaksikan pria-pria yang luar biasa kuatnya, tapi belum pernah ada manusia yang "sekuat lembu jantan". Manusia mampu berlari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, tapi itu tidak ada artinya dibandingkan kecepatan lari seekor cheetah. Ada orang-orang yang sangat pandai untuk menentukan arah, meskipun begitu mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana burung layang-layang yang bermigrasi selalu dapat kembali ke tempat yang sama setiap tahunnya.

Memang beberapa jenis binatang benar-benar pandai. Namun, tak satu pun dari mereka dapat berpikir seperti kita. Tak satu binatang pun dapat mengembangkan masyarakat yang menakjubkan, dengan segenap kemajuan di bidang medis dan teknologi.

Kemampuan unik manusia untuk berpikir memungkinkan mereka untuk berpikir tentang Allah dan kekekalan. Seorang penyair Amerika terkenal, Walt Whitman, merasa terganggu dengan hal itu. Ia mengaku sering kali merasa iri pada ternak yang merumput sepuasnya di padang rumput, sebab mereka tak pernah khawatir dan memikirkan hal-hal yang menyusahkan.

Sebagai orang kristiani, kita tahu bahwa kemampuan berpikir merupakan karunia Allah. Namun sayang, kita dapat menyalahgunakannya dengan cara mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang cabul, kotor, dan buruk. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk merenungkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, bijak, patut dipuji, dan sedap didengar (Filipi 4:8).

Tuhan, bantulah kami untuk mendisiplin pikiran - Herb Vander Lugt

Karakter yang saleh dibentuk oleh pikiran yang kudus.

Rabu, 04 Januari 2012

Polusi Suara

Kolose 3:8
Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 5; Matius 5; Kejadian 9-10

Kata-kata tak senonoh dan ungkapan yang kasar kini semakin biasa diucapkan dalam acara-acara utama televisi. Banyak penulis dan produser tampaknya semakin sering melanggar batas ketentuan yang diizinkan masyarakat tentang penggunaan kata-kata yang tidak bermoral dan bersifat menyerang.

Perkataan yang tak senonoh dan kasar adalah jenis polusi suara yang paling buruk. Selain menghujat Allah, kata-kata kotor juga merendahkan manusia. Percakapan yang diakhiri dengan kutukan, sumpah serapah, dan ungkapan-ungkapan kotor serta kasar, mengaburkan keindahan ide-ide yang luhur. Kata-kata yang bersifat mengutuk dapat membangkitkan amarah dan merusak hubungan kita dengan sesama. Kata- kata tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan dalam diri orang-orang yang peka terhadap perlakuan kasar secara lisan.

Perkataan yang tidak baik membuat keadaan di sekitar menjadi tak bermoral dan tidak rohani, sehingga merusak pikiran dan cara hidup yang kudus. Suara yang memekakkan telinga dapat meredam suara Roh Allah. Itulah sebabnya firman Allah menyatakan dengan jelas jenis perkataan yang tidak boleh keluar dari bibir para pengikut Yesus (Kolose 3:8), dan sekaligus jenis perkataan yang seharusnya menjadi ciri khas kita (Kolose 4:6).

Berabad-abad yang lalu pemazmur mempersembahkan sebuah doa yang akan membuat kita lebih bijaksana: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3). Doa semacam itu sangat kita butuhkan pada masa-masa sekarang ini - Dennis De Haan.

Perkataan yang tidak senonoh memalukan si pengucap serta merendahkan si pendengar.

Senin, 02 Januari 2012

Mengisi Kehampaan

Mazmur 62:11
Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat kepadanya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 3; Matius 3; Kejadian 5-6

"Tak ada sesuatu pun yang dapat diambil dari rumah ini," kata seorang pencuri yang merasa membuang waktu di suatu tempat yang dimasukinya. Laporan berita menyatakan bahwa pencuri itu menyusup ke sebuah rumah dan mengancam penghuninya dengan pisau sambil mencari-cari uang. Ia menggeledah rumah itu, tetapi ia hanya menemukan uang 3 dolar di suatu tempat, 5 dolar di dompet, dan perhiasan murahan.

Pencuri itu menyimpulkan bahwa pemilik rumah itu ternyata tidak lebih dari dirinya, lalu ia mengembalikan uang 8 dolar yang tadi akan diambilnya. "Saya pikir ia merasa jijik," kata korban yang berusia 32 tahun itu. "Ia tidak percaya bahwa hanya itu uang yang saya miliki." Mungkin kita akan tersenyum geli mendengar kisah pencuri yang malang itu. Namun ternyata kita sering mengalami hal serupa, ketika kita mencoba mengambil sesuatu yang tak pernah diberikan Allah kepada kita. Menuruti dorongan untuk iri hati, berzinah, mencuri (Mazmur 62:11), atau hanya sekadar bersikap keras kepala, akan lebih banyak mendatangkan masalah ketimbang keuntungan.

Daud, sang pemazmur, banyak belajar dari pengalamannya yang berat mengenai hal ini. Ketika ia berzinah dengan istri Uria, ia mendapatkan lebih banyak masalah dari-pada kesenangan yang didambakannya (2 Samuel 11-12). Bapa, tolong kami untuk melihat bahwa tak ada gunanya mengambil sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada kami. Tolong kami untuk tidak menyia-nyiakan hidup kami dengan mengejar hal-hal yang membuat kami jauh dari Engkau dan menjadikan hidup ini hampa.

Dosa selalu mendatangkan masalah.

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca