-

Tampilkan postingan dengan label Renungan keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2011

Indahnya Kebersamaan

Yeremia 33:3
Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.

Ada seorang anak perempuan yang tinggal bersama ayahnya. Ibu dari anak perempuan ini telah meninggal. Keluarga ini adalah keluarga yang bahagia, di mana ayah dan anak perempuannya ini selalu bertukar cerita sebelum berangkat ke sekolah dan tempat kerja mereka masing-masing. Hal itu mereka lakukan terus setiap hari. Sepulangnya dari aktivitas mereka masing-masing, mereka pun sering bercerita di meja makan tentang apa yang mereka alami selama satu hari itu. Kebiasaan ini telah berlangsung cukup lama.

Tiba-tiba pada suatu hari, selesai makan malam, anak perempuan ini tidak bercerita kepada ayahnya dan langsung masuk ke dalam kamar. Ayahnya kaget dan berpikir mungkin anakku terlalu capek. Keesokan harinya hal yang sama terulang kembali sehingga ketika ayahnya mempunyai sebuah cerita, ia tidak dapat menyampaikan hal itu kepada anaknya. Dan hal itu pun berlangsung sebulan lamanya.

Akhirnya tiba pada hari ulang tahun sang ayah. Anak perempuan ini memberikan sebuah bungkusan kepada ayahnya dan berkata, "Ayah, sweater ini aku buatkan khusus untuk ayah. Selama satu bulan ini aku langsung masuk ke kamar untuk membuatkan sweater ini untuk ayah. Selamat ulang tahun ayah".

Sang ayah pun menangis dan menjawab dengan sedih, "Anakku, kenapa engkau melakukan ini semua. Justru yang ayah butuhkan adalah saat di mana ayah bisa berbagi cerita denganmu. Bukannya ayah berkata ini tidak penting, tetapi saat yang indah di mana kita bisa berbagi adalah saat yang paling indah".

Lalu anak perempuan itu berkata, "Maafkan aku ayah. Selama ini aku kira dengan semuanya ini aku dapat menyenangkan hati ayah".

Hubungan ayah dan anak perempuannya ini kembali pulih dan mereka dapat kembali berbagi cerita di meja makan.

Seringkali kita terlalu sibuk dengan aktivitas kita sehingga kita sering melupakan untuk melakukan saat teduh dan berdiam diri sejenak di hadapan Tuhan, juga mendengarkan apa yang ingin Tuhan katakan dalam hidup kita.

Rabu, 29 Juni 2011

Peran Dalam Cerita Keluarga

II Korintus 5:18
“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.”

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 31; Kolose 4; 2 Tawarikh 18-19

Banyak orang menyukai cerita mengenai keluarga. Selain karena menyentuh hati, hal yang diceritakan sangat nyata dengan kehidupan manusia.

Pengarang Henri Nouwen, di dalam bukunya yang berjudul The Return of The Prodigal Son, mengatakan bahwa semua orang Kristen, pada titik tertentu dalam perjalanan iman mereka, diwakili oleh salah satu dari ketiga karakter utama dalam cerita tersebut. Kadang-kadang kita menjadi anak yang memberontak, yang membutuhkan pertolongan dan pengampunan. Pada kesempatan lain, kita adalah sang kakak yang ingin menyimpan kemarahan dan tidak mau mengampuni. Namun, apabila kita semakin dewasa, kita akan menjadi seperti sang bapak, yang rindu melihat semua anaknya diperdamaikan.

Dalam akhir bukunya, Nouwen menuliskan kata-kata berikut ini: “Pada saat saya memperhatikan tangan saya yang menua, saya kemudian menyadari bahwa kedua tangan itu diberikan untuk menjangkau mereka yang menderita, untuk menepuk bahu-bahu mereka yang datang, dan untuk menawarkan berkat dari kebesaran kasih Allah.”

Peran apakah yang Anda mainkan di dalam cerita keluarga Anda? Apakah Anda membutuhkan keberanian untuk bertobat dan memohon pengampunan? Atau apakah Anda membutuhkan belas kasihan untuk memberikan pengampunan?

Allah telah memberikan kepada anak-anak-Nya “pelayanan pendamaian” (I Korintus 5:18,19). Sekarang adalah waktu untuk memulainya.

Sikap yang benar terhadap keluarga dimulai dengan sikap yang benar terhadap Allah.

Jumat, 29 Oktober 2010

Orang Tua Yang Penuh Sukacita

Kerinduan setiap keluarga adalah mengalami keharmonisan, kebahagiaan dan sukacita. Namun sayangnya banyak keluarga-keluarga Kristen yang tidak mengalami hal ini. Justru keadaan di dalam adalah kebalikan dari apa yang diharapkan. Yang ada di dalam banyak rumah tangga adalah pertengkaran, tidak ada rasa damai serta tidak dirasakannya sukacita. Padahal memiliki sukacita adalah kunci untuk memperoleh kekuatan bagi setiap keluarga.

Sukacita (joy) adalah unsur penting yang harus dimiliki di dalam keluarga. Sukacita itu menular, jadi jika orang tua mampu menciptakan suasana sukacita, maka atmosfir keluarga pun akan dipenuhi oleh sukacita. Anak-anak akan melihat dan mencontoh apa yang orang tuanya kerjakan. Bilamana orang tua mereka mudah bersungut-sungut di dalam menghadapi masalah dalam hidup, maka anak-anak pun akan mengikuti jejak dari orang tuanya. Tetapi jika orang tua memberikan contoh teladan bahwa mereka terus bersukacita sekalipun banyak masalah silih berganti, maka hal ini akan menular kepada anak-anak sehingga roh sukacita tersebut akan mereka miliki.

Mengapa kita harus bersukacita ? Karena itulah perintah Tuhan di dalam Filipi 4:4, bersukacitalah senantiasa. Apabila kita percaya penuh kepada Tuhan, maka kita akan berani menghadapi pergumulan hidup tanpa ketakutan, kekuatiran yang tentunya menghilangkan sukacita. Pegang erat Firman Tuhan, maka kita akan semakin percaya bahwa IA punya 1001 jalan keluar bagi masalah keluarga kita.

Jadilah agent sukacita !!! Itulah yang sering kami ajarkan kepada anak-anak kami, Rachel & Jacob. Dimana pun saja kami berada, kami selalu berusaha menciptakan suasana sukacita, kami berusaha selalu bersyukur sekalipun harus menghadapi ujian-ujian dalam hidup. Di dalam mezbah keluarga, kami doakan pergumulan kami sehingga anak-anak tahu dan mengerti. Lalu setelah berdoa, kami tersenyum dan berkata, “Nah … kita tunggu saja tangan Tuhan menolong kita”. Kami ajarkan mereka untuk percaya Tuhan, karena IA adalah Tuhan yang peduli, Tuhan yang melindungi. Ketika kami lakukan hal tersebut, maka tertanam di dalam hidup mereka bahwa masalah boleh datang tetapi orang tua mereka tetap bersukacita karena percaya kepada Tuhan, sehingga hal ini tertransfer pada keduanya. Ketika mereka menghadapi masalah-masalah kecil, mereka tetap bersyukur dan bersukacita.

Keluarga harmonis bisa dimiliki setiap orang. Mulailah dengan menjadi pribadi yang penuh dengan menjadi pribadi yang penuh sukacita. Suami istri yang penuh sukacita akan mentransferkan hal tersebut kepada anggota keluarga lainnya, maka perlahan-lahan awan kelabu persungutan di dalam rumah tangga akan tersingkir oleh sinar mentari sukacita.
Rata Penuh
Ps.Edward Supit & Ps.Levi Samodro Supit

Bersukacilah selalu
* Buah roh sukacita
* Jangan pernah menukar kebahagiaan
* Toko grosir surga
* Kata bijak mengatasi kekhawatiran

Artikel Renungan favorit pembaca