Selasa, 04 November 2008

MENTAL KAKI GUNUNG

BILANGAN 13:30, “Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"
13:31 Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."

Beberapa tahun lalu saya ikut tour ke LOMBOK, dan sempat transit di daerah DIENG, dengan tujuan untuk menyaksikan sunrise di puncak gunung BROMO. Bagi yang mau berangkat, kami sudah harus siap dijemput jam 2 subuh dengan menggunakan colt atau jeep. Dari total peserta 42 orang, hanya sekitar 25 orang yang mau berangkat, yang lainnya lebih memilih untuk tidur di hotel. Perjalanan menuju kesana, bukan perjalanan yang menyenangkan, kami harus melewati kelokan yang tajam dan sempit, Tibalah kami di suatu tempat yang namanya TANJANGAN, dimana kami bisa melihat sunrise “WOW, amazing” (anda harus datang sendiri kesana untuk melihatnya) , perjalanan kemudian dilanjutkan hingga di padang pasir (kalau bisa dikatakan demikian) karena memang di sekelilingnya hanya ada pasir. Kendaraan hanya berhenti di kaki gunung dan untuk ke puncak gunung harus menggunakan kendaraaan yang berbeda, ada 2 alternatif yang bisa kami gunakan jalan kaki atau naik kuda (inilah yang saya gunakan) lalu menaiki +-150 anak tangga. Tour leader mengatakan bahwa diatas gunung terdapat kawah dan dari sana bisa melihat view yang sangat indah Setelah mendengar berita itu, sebagian dari rombongan kami, memutuskan tidak berangkat, mereka lebih memilih untuk berada di kaki gunung.


Kami akhirnya berangkat dengan naik kuda dengan didampingi kusir, pak kusir berada di samping kami dan menuntun kuda tersebut supaya tidak terperosok. Saat berangkat ke puncak gunung tidak terlalu tegang walau pun agak tegang juga karena saya belum pernah naik kuda ditambah pelananya yang keras, namun saya masih bisa menikmati perjalanan. Tiba di kaki puncak, kami turun dari kuda, menarik nafas dan melihat ke puncak gunung. Saat melihat ke arah sana, beberapa rekan berkata, “Wah tinggi banget, aku tidak akan bisa naik kesana. Mana udaranya tipis begini, bikin nafas jadi sesak.” Memang, makin tinggi permukaan bumi, udara semakin tipis dan bisa membuat nafas kita pendek.”


Perkataan rekan ini, tidak menyurutkan semangat kami. Saya dan beberapa orang tetap memutuskan untuk menaiki anak tangga itu. Hingga akhirnya……… kami sampai di bibir kawah di puncak gunung BROMO, semua keletihan, nafas yang tersenggal-senggal tidak kami rasakan. Yang kami rasakan adalah sukacita karena kami mampu menyelesaikan perjalanan ini. Dan benar seperti perkataan tour leader, bahwa dari puncak gunung kita dapat melihat view yang lebih indah dari TANJAKAN di bawah tadi. Setelah jepret sana jepret sini, kami menuruni tangga dan bertemu beberapa orang yang akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak kami. Singkat kata, kami sampai di kaki gunung dan segera naik ke colt untuk kembali ke hotel. Ternyata…. mobil kami adalah yang paling terakhir berangkat, karena mereka menunggu kami yang naik ke puncak gunung. Di dalam kendaraan, kami bercerita dengan hebohnya dan itu membuat beberapa orang “iri” dan “menyesal” karena mereka tidak ikut bersama kami naik sampai ke puncak. Dan yang paling “iri” adalah mereka yang memutuskan untuk tinggal di hotel. Sayang sekali…. Mereka melewatkan moment yang sangat indah, karena mereka tidak akan memiliki kenangan yang sama. Mungkin mereka akan datang lagi ke BROMO, tapi tentunya dengan suasana yang berbeda, karena rekan-rekannya sudah berbeda.


Dari ilustrasi di atas, apakah anda mendapat sesuatu ?

Tuhan memberikan banyak kesempatan pada kita dan memberikan kita kebebasan untuk memutuskan pilihan mana yang akan kita pilih. Namun seringkali kita tidak mau melangkah untuk masuk rencana TUHAN dan memilih untuk hidup dalam zona nyaman. Seperti rekan-rekan saya yang memutuskan untuk tinggal di hotel, mereka tidak merasakan serunya selama perjalanan itu, demikian juga mereka yang memutuskan untuk berhenti di kaki gunung bahkan di kaki anak tangga. Padahal perjalanan mereka tinggal satu langkah lagi menuju puncak dan mereka dikalahkan oleh diri mereka sendiri, oleh mental mereka yang berkata saya tidak mampu dan tidak sanggup.

Menurut anda, sebenarnya mereka mampu untuk mencapai puncak atau tidak ?


Mungkin ada yang berkata tidak, ragu-ragu dan ada juga yang berkata mampu. Saya akan berkata mereka mampu, sama seperti kami yang mampu mencapai puncak gunung.


Tapi kenapa mereka tidak mampu menyelesaikannya ?

1. FOKUS PADA MASALAH
BILANGAN 13:28, “Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.”
Ada 4 tipe orang dalam rombongan kami :
1. tetap tinggal di hotel
2. tinggal di kaki gunung
3. tinggal di kaki anak tangga
4. sampai ke puncak
Sebagian besar memutuskan untuk tinggal di hotel karena cuaca yang sangat dingin dan harus bangun subuh-subuh. Hal inilah yang membuat enggan sebagian peserta. Peserta yang hanya sampai di kaki gunung dan berhenti karena mereka melihat betapa tinggi nya gunung itu dan mengukur diri sendiri dan menyatakan tidak mampu untuk mencapainya. Yang sungguh disayangkan adalah rekan-rekan saya yang hanya tinggal di kaki anak tangga, tinggal selangkah lagi mereka menuju puncak. Tapi mereka tidak mau, karena mereka berkata kaki mereka pegal bila harus menaikinya.

Dan yang paling sukses sampai ke puncak adalah group kami, saat kami sharring di kendaraan, “Kenapa kami bisa sampai di puncak?” Jawaban kami adalah sama, dalam benak kami hanya tertuju pada satu titik yaitu puncak gunung BROMO, apapun rintangannya itu tidak membuat kami mundur. Sekalipun mungkin harus terjatuh dari kuda (itu kesaksian rekan saya karena dalam perjalanan naik dan turun, rekan saya ini selalu jerit-jerit ketakutan). Dia katakan “ Itu semua tidak sebanding dengan hadiah yang akan kita terima saat kita berada di puncak gunung.” Dalam hati, kami pun meng “amin” kan, karena kami pun mengalami hal yang sama dan kenangan itu akan kami ingat selamanya.

Banyak orang tidak mampu menghadapi masalah, karena mereka selalu mengukur masalah yang ada di depan mata dengan ukuran dirinya sendiri. Saat diberi tanggung jawab yang besar, dia tidak mampu menyelesaikannya dan bahkan melemparkan tanggungjawab itu kepada orang lain.

MASALAH, SESUNGGUHNYA ADALAH TEMPAT PELATIHAN BAGI MANUSIA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN KEAHLIAN BAGI DIRINYA SENDIRI.


Saudaraku, janganlah berdoa meminta TUHAN untuk melakukan masalah dari hadapan anda, tapi mintalah kekuatan dari TUHAN untuk memampukan anda mengatasi masalah itu. Anda akan melihat bahwa saat anda sudah mampu melewati, masalah itu menjadi tidak ada apa-apanya. Karena apa, karena anda sudah melewatinya.


2. MERASA TIDAK DAPAT MAJU

BILANGAN 13:31-33, “Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."
13:32 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka,……..”

Orang yang selalu mengukur diri tidak dapat maju, ibarat pepatah mengatakan “ seperti katak dibawah tempurung”, orang yang seperti ini adalah orang yang pesimis menganggap dirinya tidak dapat maju untuk melawan masalah, akibatnya tidak berkembang dan selalu hidup di masa lalu. Orang yang seperti ini, selalu merasa masalah lebih besar dari dirinya sendiri dan merasa dirinya tidak berdaya untuk menghadapinya.


Saat kami menuruni anak tangga, kami bertemu dengan seorang oma dari group kami. Dengan perlahan tapi pasti, beliau menaiki satu per satu anak tangga itu. Sesampainya di kaki gunung, kami harus segera naik colt, tapi ternyata masih ada beberapa peserta yang belum sampai. Tiba-tiba, oma ini menyeruak masuk dan berkata “Oma sangat bahagia bisa mencapai puncak gunung itu, walau harus berjalan perlahan-lahan. Oma yakin bisa sampai, tadinya oma hanya berniat tinggal di kaki anak tangga. Tapi oma terinspirasi oleh kalian dan oma memutuskan untuk naik.”


Untuk maju, janganlah terpaku pada usia, gender, suku bangsa, warna kulit, etc. Semuanya itu, diciptakan iblis untuk mematikan potensi diri anda dan mematikan diri anda sebagai manusia utuh. TUHAN menciptakan anda dengan segenap kemampuan untuk berkuasa atas bumi ini dan juga untuk mengatasi setiap masalah yang timbul. PERCAYA DAN MELANGKAHLAH ! Karena anda punya ALLAH yang luar biasa, yang memampukan anda untuk melakukan perkara-perkara yang luar biasa, diluar pikiranmu. Buktinya oma ini mampu untuk mencapai puncak gunung dalam usia 67 tahun. Karena beliau yakin, bahwa dirinya mampu naik ke puncak gunung.


3. BERSUNGUT-SUNGUT

BILANGAN 14:2, “Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: "Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!
14:3 Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?"
Bersungut-sungut alias ngomel adalah salah satu ciri orang pesimis. Selalu memperkatakan dan memperbesar masalah dengan maksud untuk mencari perhatian orang lain dan tidak puas dengan diri sendiri.

Orang yang seperti ini tidak pernah menemukan kepuasaan dalam hidupnya, Karena selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, membandingkan masa sekarang dengan masa lalu dan menyalahkan keadaan sekelilinnya.


4. MENYALAHKAN TUHAN

BILANGAN 14:3, “Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?"

5. MENGKRITIK

Dan inilah salah satu momok yang sering tidak disadari oleh kebanyakan orang yaitu “suka mengkritik”. saat ada orang baru ditempat kita bekerja dan dalam tempo singkat langsung menempati posisi penting, langsung kita kasak kusuk dan menuding yang bukan-bukan KKN lah, menjilat lah, etc. Atau seringkali kita mengkritik pimpinan/atasan kita baik di perusahaan maupun di gereja.

Bedakan antara mengkritik dan kritis. Kritik lebih cenderung menjatuhkan seseorang dengan mencari titik-titik kelemahannya. Sedangkan kritis lebih difokuskan pada mencari jalan keluar dari kelemahan-kelemahan yang ditemukan. Kritik lebih bersifat negative sedangkan kritis lebih bersifat membangun.


Dulu saya adalah orang yang suka mengkritik, saat menemukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan hati atau kelihatan aneh di depan mata, kritikan itu langsung mengalir dengan pedas. Apapun yang di depan mata selalu saya komentari, entah itu wajah seseorang, cara jalan, cara makan, cara kerja, cara berpakaian, etc dan itu membuat pergaulan saya terbatas. Suatu hari, ROH KUDUS menyingkapkan pikiran bahwa saya adalah orang yang perfeksionis dan akar permasalahan ada pada diri saya bukan orang lain. Saya menggunakan standar tinggi untuk menilai diri sendiri dan orang lain dan menuntut mereka untuk melakukannya, yang tentu saja tidak mungkin terwujud secara sempurna. Saya menjadi sangat kecewa dan melampiaskannya dengan mengkritik habis-habisan.


ROH KUDUS mengajar saya untuk menerima setiap orang apa adanya, sama seperti TUHAN yang menerima diriku apa adanya demikian juga saya harus memperlakukan setiap orang sama seperti TUHAN memperlakukan saya.


Ingatlah akan hal ini, TUHAN telah menciptakan manusia-manusia pemenang yaitu anda dan saya. Namun keputusan untuk menjadi siapa dan apa anda di masa yang akan datang, itu di tangan anda bukan di tangan TUHAN. Berjalan bersama TUHAN seakan-akan menakutkan, penuh kesulitan, rintangan, kekeringan, marabahaya. Tapi percayalah, tangan TUHAN tetap menyertai anda, DIA tetap menyertai, menjaga dan mencukupkan semua kebutuhan anda.


PS:

- Orang yang bermental kaki gunung tidak akan mampu melihat penggenapan rencana TUHAN dalam hidupnya.
- Orang yang bermental kaki gunung adalah orang yang hidup di masa lampau, yang hidup penuh dengan nostalgia, baik mengenai pelayanan, kepahitan, kegagalan, prestasi, kesuksesan, kekayaan, etc.
- Orang yang bermental kaki gunung adalah orang-orang yang telah mati secara rohani walaupun secara fisik masih hidup, masih aktif pelayanan tapi secara rohani sudah mati.
- Orang yang bermental kaki gunung adalah orang-orang yang lebih menyukai tata cara, system, liturgi yang berkaitan dengan TUHAN daripada pribadi TUHAN itu sendiri.
- Orang yang bermental kaki gunung adalah orang yang berada di dua sisi, ingin ikut TUHAN dengan tetap mengandalkan kekuatan sendiri. Dan orang yang mendua hati tidak akan tenang hidupnya.
- KUATKAN DAN TEGUHKAN HATIMU !
Tuhan memberkati !

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca