-

Tampilkan postingan dengan label Renungan tentang Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan tentang Kasih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2013

Mintalah, Mintalah, dan Mintalah

Lukas 11:9
Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 84; Lukas 5; Yeremia 16-17

Katakanlah ada seorang teman yang tengah malam datang mau meminjam beberapa bungkus mie instant. Sudah jelas kita punya 1000 alasan untuk menendang dia keluar.

Ya ampunnn, besok aku harus kerja, dan dia membangunkan aku malam-malam?
Cuma soal mie instant? Salah sendiri dia tidak menyimpan sedikit makanan!
Ngomong-ngomong, apa kita kenal dekat yah?
...dan sejuta alasan lainnya.

Mungkin kita akan mencoba pura-pura tidur dan berharap dia akan segera angkat kaki. Tapi ketika kita mendapati bahwa orang tebal muka ini tetap mengetuk pintu, mau tidak mau kita pun bangun dan memberikan apa yang dia minta. Bukan karena kita baik, tapi agar dia segera angkat kaki sebelum seisi rumah kita dan tetangga terbangun.

Jelas-jelas Allah Bapa kita tidak seperti itu. Dia bukan pemalas, Dia bukan orang lain, melainkan Bapa kita sendiri, Dia tidak kekurangan makanan dan segala harta lainnya. Jadi jika orang pelit di ataspun terpaksa bangun, betapa lebih lagi Bapa kita di Surga memberikan apa yang kita perlukan.

Terkadang kebenaran yang sederhana terlupakan di dalam hidup setelah kita dewasa, sementara kita semakin mandiri dan dunia semakin keras. Kitapun jarang meminta tolong kepada Tuhan. Tetapi biarlah hari ini kita ingat satu hal: mintalah pada Bapa. Mintalah dan mintalah, dengan iman...

Mintalah kepada Tuhan. Mungkin itulah sikap paling sederhana yang kita lupakan saat kita tumbuh dewasa.

Rabu, 15 Agustus 2012

Kasih Mengadakan Perubahan

I Korintus 13:7-8
"Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 39; 1 Timotius 3; Yesaya 31-32

Kasih tidak akan pernah gagal. Tiada yang berhasil tanpa itu dan tiada kegagalan yang dapat terjadi dengan itu. Bila Anda hidup oleh kasih, Anda tidak dapat gagal.

Dibutuhkan iman untuk percaya bahwa kasih takkan gagal. Pikiran duniawi tidak dapat memahami itu karena manusia duniawi dan lingkungannya diperintah oleh keserakahan.

Tetapi bila Anda menerapkan kasih oleh iman dan menolak untuk mencari kepentingan diri sendiri, maka Anda membiarkan Bapa bertindak untuk kepentingan Anda. Selama Anda tinggal dalam kasih, Allah Bapa akan mengusahakan kepentingan Anda, Dia memastikan Bahwa Anda berhasil. Berjalan dalam kasih adalah keuntungan besar bagi Anda!

Kasih Agape ialah jenis kuasa yang baru. Itu menjadikan Anda penguasa dari setiap keadaan. Tiada senjata yang akan berhasil melawan Anda. Bahkan tiada seorang pun mempunyai kuasa untuk menyakiti perasaan Anda karena Anda tidak diperintah oleh perasaan, melainkan oleh kasih Tuhan. Anda mengasihi seperti Dia mengasihi.

Kasih sanggup mengadakan perubahan menyeluruh dan mendasar. Jika Anda sepenuhnya memahami kasih Tuhan, Anda mungkin akan saling bersaing, Anda masing-masing berusaha semakin mengasihi sesama. Dan pastilah setiap orang akan muncul dari persaingan itu sebagai pemenang! Karena kasih itu sesungguhnya adalah satu-satunya rahasia pasti yang mengantar pada keberhasilan Anda.

Kasih sejati bukanlah hanya menguasai perasaan, tetapi juga kehidupan yang Anda jalani hari demi hari di dunia ini

Rabu, 04 Juli 2012

Empati

Roma 12:15
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 5; Matius 5; 2 Raja-Raja 1-2

"Asalkan Anda dapat mengurangi penderitaan orang lain, kehidupan tidak akan sia-sia," tulis Hellen Keller. Keller yang cacat fisik sedari kecil, pasti mengerti seperti apa itu kepedihan emosi. Di usia 19 bulan, suatu penyakit telah membuatnya buta dan tuli. Guru Keller, Ann Sulivan yang berbelas kasihan mengajarinya membaca, menulis dalam huruf braille, dan kemudian mengajarinya berbicara. Ann mengajar dengan cara mengejakan huruf-huruf pada tangan Hellen.

Apa sih sebenarnya yang menggerakkan Ann? Rupanya Ann sendiri tahu benar frustasinya berjuang hidup dengan cacat fisik, karena ia sendiri nyaris buta. Empatilah yang membuat Ann sanggup menempatkan diri dalam posisi Hellen dan turut merasakan penderitaannya. Tertular oleh empati gurunya, Hellen memutuskan untuk membaktikan hidupnya bagi mereka yang senasib dengannya. Entah seberapa besar efek yang dihasilkan oleh empati awal ini bagi orang-orang yang ditolong Hellen selanjutnya.

Kita tahu panggilan tertinggi kita adalah untuk mengasihi. Kita seringkali ingin mewujudkannya, tapi sayangnya kita tinggal di dunia yang mementingkan diri sendiri. Ada pepatah mengatakan, "Tinggalkanlah duniamu, dan masuklah ke dunia orang lain. Kita perlu belajar "masuk" ke dalam penderitaan orang lain sehingga dapat memahami mereka. Jadi meski niat mengasihi tinggi, jika lupa mengasah empati, mengasihi itu rasanya sulit untuk dilakukan dengan tulus.

Kita dapat menjangkau empati jika kita benar-benar memulai dari hati.

Rabu, 16 Mei 2012

Kasih Dan Resiko

1 Yohanes 4:18
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 135; 2 Korintus 8; 1 Tawarikh 5-7

Di hadapan saya adalah seorang dengan raut muka yang memperlihatkan usia penuh dengan sukacita dan hikmat. Setelah kami berkenalan, saya mendapati bahwa dia adalah mantan seorang CEO di perusahaan asuransi besar di Afrika Selatan. Pada usia 50 tahun dia meninggalkan posisinya dan merantau ke Asia Tenggara untuk menjadi misionaris dan melakukan pekerjaan Tuhan.

"Mengapa?" tanya saya spontan. Meninggalkan kehidupan yang nyaman dan merantau ke dalam ketidakpastian, aneh kan?

"Allah memanggil saya."

"Bagaimana Anda tahu bahwa itu betul dari Tuhan, bagaimana jika itu salah?"

Dia berusaha menjelaskan bahwa tentu itu melewati pergumulan dan sederetan tanda dan konfirmasi yang dia dapatkan.

"Akan tetapi...," ujarnya pelan dan mantap. "...bahkan sekalipun ternyata saya mendapati itu salah, saya lebih suka untuk mencoba dan pergi, daripada saya hidup di sana karena tidak berani dan menghabiskan hidup saya dalam kegelisahan dan penyesalan. Kalaupun ternyata setelah saya ke sini dan mendapati itu salah, maka dengan rendah hati saya akan mengakuinya dan pulang kembali, tetapi saya tidak menyesal."

Saya tercenung mendengar jawaban itu. Bukan jawaban yang gegabah dan sembarangan yang keluar dari seorang ahli di dunia asuransi. Tetapi jawaban seseorang yang karena cintanya kepada Tuhan begitu menggebu telah memampukan dia mengambil ‘resiko'.

Kasih mengalahkan ketakutan dan membuat kita berani mengambil resiko.

Rabu, 09 Mei 2012

Allah Mengasihi Hagar

Mazmur 25:16
Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 130; 2 Korintus 3; 1 Samuel 26-27

Dengan gaya humornya Sir Winston Churchill mengatakan, I like pigs. Dogs look up to us. Cats look down on us. Pigs treat us as equals. Maksudnya adalah inilah cara pandang dunia. Dunia menempatkan orang-orang dari golongan terpandang, kaum jetset yang hampir memiliki segalanya di tempat-tempat istimewa, cenderung memandang rendah kaum papa yang hanya memiliki diri mereka sendiri. Orang-orang sering lupa bahwa kita harus memadang semua orang sama rata.

Syukurlah, Allah kita berbeda. Ingat cerita Hagar? Ketika ia tertindas dan melarikan diri, siapakah yang mencarinya? Allahlah yang mencari dia. Seringkali dalam pandangan kita, Hagar hanyalah seorang budak yang kemudian melahirkan Ismael dan sebuah agama besar lain. Sosok yang hina, terbuang dan tertindas.

Tetapi inilah rahasia dan kenyataan yang luar biasa. Adalah Allah sendiri yang memperhatikan penderitaan Hagar dan menolongnya ketika ia kehausan dan Ismael hendak mati. Adalah Allah yang bersabda, "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring."

Seringkali kita merasa hina sebagaimana dunia memandang kita. Seringkali kita merasa terbuang sebagaimana otoritas agamawi memandang kita. Tetapi satu hal yang pasti - Allah mengasihi orang-orang yang terbuang. Dunia merendahkan orang yang tertindas, tetapi Allah tetap berbelas kasihan.

Cara pandang Allah dan manusia itu sangat berbeda, sejauh langit dan bumi.

Kamis, 22 Maret 2012

The Gospel Of Grace

Lukas 15:20
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 78; Roma 6; Ulangan 3-4

Salah satu kisah perumpamaan yang begitu menyentuh di Alkitab adalah kisah si anak hilang. Dikisahkan tentang si anak bungsu yang kurang ajar kepada ayahnya. Berfoya-foya, bergelimang dalam dosa dan melupakan ayahnya sama sekali.

Sampai suatu saat, ketika dia menyadari kesalahannya, dan beriktiar untuk kembali. Si anak bungsu ini bahkan sadar bahwa ia tidak layak lagi untuk diterima. Dia telah mengkhianati ayahnya, bahkan wajar kalau sang ayah memutuskan tali keluarga dengannya. Jadi jauh-jauh hari dia sudah merangkai kata-kata, berharap agar ayahnya mau menerima dia kembali, meskipun hanya sebagai salah satu pegawainya.

Pada hari dia kembali, sang ayah sudah berdiri dan menunggu di jalan. Dia berlari-lari menyambut anaknya ketika ia masih jauh dan memeluknya.

Dia bahkan tidak memberi kesempatan untuk anaknya tawar-menawar untuk menjadi salah seorang pegawainya. Dia menyambut dan menerimanya kembali sebagai anak walau sang anak tidak layak memperolehnya, hanya karena satu hal: kasih karunia.

Demikian juga Allah kita, kasih karunia-Nya tidak memberi ruang bagi kita untuk tawar-menawar. Kita tidak dapat membuat Allah lebih mengasihi kita dengan apapun yang kita beri atau buat, dan kita juga tidak dapat membuat Dia menolak kita dengan kesalahan apapun yang kita perbuat. Asalkan kita datang kepada-Nya, kasih karunia-Nya membereskan segalanya.

Tidak ada yang dapat kita lakukan supaya Allah lebih mengasihi kita atau kurang mengasihi kita.

Selasa, 14 Februari 2012

Untuk Mereka Yang Terlupakan

1 Yohanes 3:16-18
Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 41; Kisah Para Rasul 13; Keluaran 31-32

Bicara soal "mereka yang terlupakan" pikiran kita langsung terbayang sekelompok masyarakat yang miskin, tidak terpelajar, pengemis, pengamen, dan semua orang berlabel "sampah masyarakat". Sikap terhadap mereka pun beragam. Ada yang acuh tak acuh, ada yang perduli dan ada yang benci. Tapi 1 Yohanes 3:16-18 mengajarkan agar kita menunjukkan kasih dengan tindakan praktis. Berikut ilustrasi tentang tindakan praktis.

Pada suatu malam seorang ibu sedang sibuk membereskan kamar tamu untuk seseorang. Melihat pemandangan yang tidak biasa itu, sang anak bertanya, "Untuk siapa ibu membereskan kamar itu?" Jawaban yang mengejutkan keluar dari mulut ibu itu. "Baru saja ayahmu memberitahu ada seorang pengemis di luar sana sedang kedinginan dan tidak punya tempat tidur".

Jelas bagi sebagian orang itu bukan sikap yang bijaksana. Mengundang pengemis yang kotor dan bau, masuk dan tidur di kamar tamu. Lukas 14:13-14 adalah alasan yang mendorong ibu itu untuk bertindak demikian, yang berbunyi, "...apabila mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta...".

Tidak jarang dalam hidup ini kita diberi kesempatan untuk menikmati kenyamanan dan kemakmuran. Setiap hari mungkin kita "berpesta" dengan segala fasilitas yang ada. Saat seperti itu, bersediakah kita mengundang mereka yang kurang beruntung?

Berikanlah kasih yang Anda miliki kepada mereka yang dilupakan.

Sabtu, 07 Januari 2012

Peace Maker

Matius 5:9
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

Konflik tentu sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja. Keberadaan konflik ini memang akan sangat mengganggu terutama dalam bagian yang membutuhkan kerjasama di antara para karyawannya. Seringkali konflik timbul karena di tempat kita bekerja terdapat orang yang cenderung sebagai pembawa masalah. "Trouble Maker" ini tidak berarti orang tersebut yang membuat masalah dengan orang lain ataupun mencari gara-gara, tetapi lebih menjurus pada pribadi yang mendorong terjadinya kondisi konflik.

"Pengadu" inilah istilah yang lazim digunakan bagi mereka. Selain memiliki kecenderungan untuk menceritakan semua masalah pada setiap orang, dan apa yang dikatakannya itu seringkali mendatangkan konflik di antara orang-orang di sekitarnya. Mungkin apa yang diceritakan bukanlah dusta dan benar adanya, tetapi "Pengadu" ini memanfaatkan hal ini untuk menunjukkan keburukan atau kesalahan orang lain dan menempatkan dirinya di posisi yang lebih baik dan atau meninggalkan kesan baik tentang dirinya.

Tanpa sadar seringkali orang percaya yang katanya memiliki nilai-nilai yang lebih baik, terjerumus dalam perkara seperti ini. Kita sering menceritakan mengenai keburukan-keburukan orang lain, bahkan membocorkan rahasia dan kesalahan rekan kerja kita. Bukan berarti kita harus selalu tutup mulut, tetapi kita harus menguji alasan kita melakukan "pengaduan" ini. Untuk meninggikan diri? Untuk menjelekkan posisi orang lain? Atau memang untuk alasan yang benar dan sangat perlu untuk dilakukan. Profesional, bukankah kita dipanggil menjadi pembawa damai?

Kasih menutupi banyak pelanggaran.

Selasa, 20 Desember 2011

Karunia Kasih

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Nathan, yang berusia 8 tahun, sedang bekerja keras (dengan sedikit bantuan dari kakeknya) untuk membuat rumah burung yang akan dihadiahkan kepada ibunya di hari Natal. Ia menyebutnya "proyek rahasia." Ia berpikir keras dan menggunakan seluruh tenaga dan waktunya untuk mengerjakan ‘proyek' ini. Dan yang paling penting, ia melakukannya atas dasar kasih.

Sebelum Nathan memulai proyek itu, ia memperkirakan waktu yang diperlukan untuk membuatnya (7,5 jam), kemudian ia memutuskan dengan warna apa rumah itu akan dicat (kuning dengan atap biru). Saat Natal tiba, ia bersikeras agar hadiah itu dibuka pertama kali, dan ia berseri-seri saat ibunya berkata bahwa ia benar-benar menyukainya.

Nathan memberikan hadiah itu dengan dasar yang sama dengan hati Allah ketika memberikan "Hadiah" yang kelahiran-Nya kita peringati sebagai hari Natal. Allah Bapa, digerakkan oleh kasih-Nya yang besar, "Telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia" (Yohanes 3:16-17).

Renungkanlah kasih Bapa yang memberikan hadiah yang tak ternilai harganya, yaitu Anak-Nya yang tunggal, yang merupakan bagian dari rencana kudus-Nya (Efesus 1:4-5; 3:11). Karunia kasih Allah akan membuat diri kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita yang besar. Mari kita nyatakan bersama-sama, "Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!" (2 Korintus 9:15)

Hadiah terbaik yang dapat diterima manusia adalah Yesus.

Minggu, 27 November 2011

First Love

Yeremia 2:2
"Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya.

Apakah Anda masih mengasihi Allah seperti dahulu, atau Anda hanya berharap Allah mengasihi Anda? Apakah segala sesuatu dalam hidup Anda membuat hati-Nya bersukacita, atau Anda selalu mengeluh karena banyak hal tidak terjadi sesuai dengan keinginan Anda? Seseorang yang telah lupa akan harta kekayaan Allah takkan merasa gembira. Sungguh indah untuk mengenang bahwa Yesus Kristus mempunyai kebutuhan yang dapat kita penuhi - "Berilah aku minum" (Yohanes 4:7). Berapa besarkah kasih yang telah Anda tunjukkan kepada-Nya minggu lalu? Sudahkah hidup Anda mencerminkan nama baik-Nya?

Allah sedang berkata kepada umat-Nya, "Kalian tidak mengasihi aku lagi sekarang, tetapi Aku ingat akan masa kalian mengasihi Aku dahulu." Dia bersabda, "Aku teringat... kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin" (Yeremia 2:2). Apakah cinta Anda kepada Yesus Kristus sekarang masih meluap-luap seperti pada mulanya dahulu, ketika Anda berbalik dari kebiasaan anda untuk membuktikan pengabdian Anda kepada-Nya? Apakah Dia pernah mendapati Anda sedang mengenang masa lalu ketika Anda hanya mempedulikan Dia saja? Masih seperti itukah keadaan Anda sekarang, atau Anda telah memilih hikmat manusia untuk menggantikan kasih sejati kepada-Nya? Apakah Anda sedemikian mengasihi Dia sehingga Anda tidak peduli ke mana pun Dia akan membimbing Anda? Atau Anda ingin tahu berapa banyak kehormatan yang Anda terima untuk mengimbangi pelayanan yang harus Anda berikan kepada-Nya.

Sementara Anda mengenang hal yang diingat Allah tentang diri Anda, Anda mungkin juga mulai menyadari bahwa Dia tidak seperti dahulu dalam sikap-Nya kepada Anda. Bila ini terjadi, Anda seharusnya membiarkan rasa malu dan rendah diri timbul dalam hidup Anda, karena itu akan mendatangkan dukacita rohani, dan "dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan..." (2 Korintus 7:10).

Apakah kasih mula-mula tetap ada dalam hati anda?

Sumber : Pengabdianku Untuk Kemuliaan-Nya, Oswald Chambers

Jumat, 09 September 2011

Sejauh Mana Kita Mengasihi Sesama?

Markus 12:31
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.

Seorang guru besar mengajar di tiga universitas terkenal di negaranya. Kita pasti yakin bahwa ia adalah seorang yang pandai, terhormat dan memiliki penghasilan tinggi sebagai hasil dari kedudukannya. Tapi yang mengagetkan, dia meninggalkan semua kehormatan dan profesinya untuk mengabdikan diri pada pelayanan sosial. Dia mengurus seorang muda yang cacat, mulai dari menyuapi, memandikan, sampai membuang kotorannya. Ketika ditanya oleh seseorang: "Mengapa Bapak melakukan semua ini, hanya demi seorang cacat?" Guru besar ini melontarkan jawaban yang mengharukan: "Bagi saya, walaupun dia cacat, dia seorang yang sangat berharga di hadapan Allah, maka layak bagi saya memberikan waktu saya untuk mendampinginya. Dia sangat berharga bagi saya."

Sanggupkah kita menyampaikan kalimat yang sama seperti guru besar tersebut? dia memandang seorang yang cacat sebagai pribadi yang berharga, sama seperti Allah memandangnya. Atau kita hanya mau mengasihi, menghargai orang yang sehat, pandai dan kaya? Hukum kedua yang Tuhan Yesus ajarkan adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Sudahkah hati kita tersentuh melihat yang kekurangan, tangan kita terulur memberi bantuan dengan penuh kasih, apapun kondisi mereka? Sudahkah mulut kita berdoa bagi sesama yang sedang mengalami musibah?
KASIH jangan hanya disimpan dalam kotak hati kita, tetapi bukalah kotak tersebut dan bagikan bagi mereka yang membutuhkannya.

Rabu, 24 Agustus 2011

Kasih Bapa

Hosea 11:4a
Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih.

Seorang ayah yang masih muda menjalankan perannya sebagai orang tua secara serius. Ketika putranya masih bayi, ia melindunginya. Saat putranya itu semakin besar, sang ayah bermain bola dengannya, memberikan dorongan, dan berusaha mengajarkan tentang Allah dan kehidupan kepadanya. Tetapi ketika remaja, anak laki-laki itu membuat jarak dan dengan cepat meninggalkannya untuk menikmati kebebasan.

Seperti anak yang hilang dalam Lukas 15, ia menolak nilai-nilai yang diajarkan ayahnya. Ia membuat keputusan bodoh dan terlibat dalam masalah. Ayahnya sangat kecewa, tetapi selalu sabar terhadapnya. "Tak peduli apa pun yang telah ia lakukan," katanya, "ia tetap anak saya. Saya tidak akan pernah berhenti mengasihinya. Ia akan selalu diterima di rumah saya." Hari penuh sukacita itu akhirnya tiba ketika ayah dan anak dipersatukan kembali.

Orang-orang pada zaman Hosea mengikuti pola yang serupa. Meskipun Allah telah menyelamatkan mereka dari Mesir dan memelihara mereka, mereka menolak-Nya. Mereka menghina nama-Nya dengan menyembah ilah-ilah orang Kanaan. Akan tetapi Allah tetap mengasihi mereka dan merindukan mereka untuk kembali (Hosea 11:8).

Apakah Anda merasa takut telah menyimpang terlalu jauh dari Allah untuk dapat dipulihkan? Dia yang menyelamatkan dan memelihara Anda rindu agar Anda kembali. Tangan-Nya terbuka dalam pengampunan dan penerimaan. Dia tidak akan pernah membuang Anda. Betapa kita gembira atas kasih Bapa!

KASIH ALLAH TIDAK ADA BATASNYA

Senin, 22 Agustus 2011

Aku Mengasihimu Selama-lamanya

Yesaya 54:10
Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.

Anak-Ku Tercinta,

Aku telah memilihmu untuk menjadi milik-Ku. Aku ingin menjalin hubungan denganmu. Bahkan jika kamu berpaling dari-Ku, bahkan jika kamu membenci-Ku, Aku akan tetap mengasihimu.

Sikap dan kelakukanmu tidak mengubah kasih-Ku terhadapmu. Jika kamu berpaling dari-Ku, atau memutuskan hubungan dengan-Ku. Aku ingin tetap bersamamu. Itu seperti halnya kamu menutup keran. Apakah airnya juga menghilang dari pipa? Tidak, tetapi tetap berada di situ, menunggumu memutar keran lagi. Aku seperti air itu. Aku di sini menunggu. Aku menginginkanmu menjadi anak-Ku. Tiada ketidakpatuhan atau pemberontakan darimu yang bisa mengubahnya.

Aku telah memilihmu, dan Aku tidak menolakmu. Janganlah memisahkan dirimu dari kasih-Ku.

Bapamu yang setia....

Rabu, 17 Agustus 2011

AKU Mengenalmu

Engkau mungkin tidak mengenal-Ku, namun Aku mengetahui segala sesuatu mengenai engkau!!
Mazmur 139:1b
TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

Allah mengenal engkau. Bahkan sekalipun engkau tidak mengenal Dia, namun Dia mengetahui segala sesuatu mengenai engkau. Ia tahu bagaimana engkau dibentuk, mengapa engkau dibentuk, dan mengapa engkau melakukan hal-hal yang engkau lakukan. Ia telah menciptakan dan membentuk engkau dalam kasih-Nya yang luar biasa untuk tujuan-tujuan kekal-Nya. Jika seorang montir mobil dapat menjelaskan dengan detail maksud atau tujuan setiap bagian dari rakitan mesin, terlebih lagi Sang Pencipta langit dan bumi mampu menjelaskan setiap karakteristik dari anak-anak-Nya terkasih.

Ia tahu setiap benjolan, setiap memar, dan setiap kegagalan. Ia tahu setiap rasa takut, setiap perasaan tidak mampu, dan setiap mimpi-mimpi kita. Dia sangat mengenal kita, namun sekalipun demikian Dia tetap mengasihi kita tanpa syarat. Pemikiran akan keintiman yang seperti ini dengan Allah menyebabkan kebanyakan dari kita merasa takut. Bagaimana mungkin Allah yang mengetahui siapa saya sesungguhnya namun masih tetap mengasihiku? Perasaan malu-lah yang membuat Adam dan Hawa lari dari hadapan Bapa Yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Namun Allah tidak mau kita lari menjauh dari-Nya, sebaliknya Ia mau kita lari mendekat kepada-Nya.

Bahkan sekalipun kita bersembunyi, kita tidak dapat melarikan diri dari tatapan kasih-Nya. Ya, Bapa kita mengenal kita secara intim dan Ia mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Kasih-Nya kepada kita lebih tinggi dan lebih dalam, dan lebih luas dibanding semua kasih yang pernah kita alami dalam seluruh hidup kita. Kasih yang sering kita kenal adalah kasih yang bersyarat dan didasarkan pada performa (perbuatan) kita. Namun syukur kepada Allah, karena kasih Bapa bukanlah seperti kasih duniawi, kasih itu sifatnya ilahi dan tidak didasarkan pada kebaikan kita namun didasarkan pada kebaikan dan kasih karunia-Nya. Ya, Bapa-mu mengenal engkau, dan Ia mengasihimu dengan segenap hati.

Rabu, 20 Juli 2011

Biru

Bilangan 15:38
“Katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 21; Matius 21; 2 Tawarikh 23-24

Pada zaman dahulu, Allah selalu berbicara kepada bangsa Israel melalui perantaraan Nabi-nabi. Dia tidak pernah langsung mengatakan apa yang Dia inginkan kepada umat pilihan-Nya tersebut. Suatu kali Allah memberikan perintah kepada Musa untuk diteruskan kepada bangsa Israel. Dia menyuruh agar rombongan yang keluar dari Mesir itu membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka yang di dalamnya dibubuh benang ungu kebiru-biruan (Bilangan 15:38).

Jumbai-jumbai tersebut adalah pengingat bagi bangsa Israel agar tetap setia melakukan segala perintah-Nya dan menjadi kudus bagi-Nya (ayat 40). Benang biru, seperti warna langit, berbicara tentang kuasa dan anugerah keselamatan dari Allah yang tak terukur.

Hari ini kita masih perlu diingatkan. Di dalam segala kesibukan hidup, kita dapat dengan mudah melupakan Allah dan kasih-Nya bagi kita. Ada hal-hal yang dapat membantu mengingatkan kita akan kehadiran-Nya. Salah satunya adalah warna biru.

“Langkah pertama adalah mengingat,” kata Aslan di dalam buku C.S Lewis ‘The Silver Chair’. Aslan, sebagai figur Kristus, berpesan kepada Jill untuk “mengingat tanda-tanda” yang telah ia berikan kepadanya. Jika Anda mengerti tanda-tanda Allah, seperti nilai penting dari warna biru, Anda akan lebih mudah mengingat kasih-Nya. Danau di tengah pegunungan, sungai yang mengalir dari atas gunung, lautan langit yang biru, semuanya mengingatkan kita akan surga dan kasih Allah yang tak terukur.

Mulai sekarang, cobalah ketika melihat warna-warna biru tersebut, ingatlah akan kasih Allah, khususnya kasih-Nya yang Dia tunjukkan kepada Anda.

Berkat sehari-hari mengingatkan kita akan Allah setiap hari.

Kamis, 07 April 2011

Dilayani oleh Allah

Markus 10:45
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 99; Lukas 11; Yosua 9-10

Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Seperti ayah menunggu anak yang hilang untuk datang ke rumah, Bapa menunggu kita untuk pulang, kembali ke dalam pelukan-Nya. Setelah menunggu dan menunggu, Tuhan sudah tidak bisa menunggu lagi. Kasih menggerakkan-Nya untuk mencari anak yang dicintai-Nya. Sebelum kita bisa kembali ke rumah, Dia datang kepada kita melalui AnakNya, Yesus. Dia memberikan segala sesuatu yang kita minta. Sebelum kita meminta sesuatu, Dia telah mati untuk kita, menawarkan kita hadiah - kehidupan yang abadi. Dia ingin kita hidup selamanya sehingga Dia bisa mengasihi kita selamanya !

Seperti anak yang hilang, kita berlari kepada Bapa, jatuh di bawah kaki-Nya, dan memohon untuk melayani-Nya. Namun, Dia selalu menolak. Dia mengangkat kita, menggenangi kita dengan air mata-Nya, memberikan kita pakaian dengan jubah putih kebenaran yang telah dicuci darah Yesus, menempatkan cincin kekuasaan dan otoritas di jari kita, dan mengantar kita ke pesta Raja.

Jangan berharap untuk duduk di bawah meja dan mengambil setiap remah yang mungkin jatuh. Tidak, dalam Kristus Anda duduk di sebelah kanan Bapa - kursi kehormatan. Dan untuk mengejutkan Anda, ketika Anda hendak mengisi cangkir-Nya dan melayani-Nya, tangan-Nya akan menghentikan Anda. Janganlah keheranan, tetapi lihatlah ke dalam mata-Nya karena Anda akan mengetahui kebenarannya. Dia mendudukan Anda di meja Raja untuk satu tujuan yakni untuk melayani Anda.

Anda sangatlah spesial bagi Allah dan karena itu Dia tak ingin kehilangan Anda.

Renungan terkait
* Melayani lebih sungguh
* Kebesaran melayani
* Tidak jauh dari Tuhan
* Tentang hamba Tuhan
* Bejana terindah


Rabu, 16 Maret 2011

Yang Tidak Akan Hilang

Roma 8:35
"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 77; Roma 5; Ulangan 1-2

Ketika kita menyatakan rasa syukur kepada Tuhan, biasanya dengan mudah kita akan bersyukur atas berkat materi dan hidup yang indah, meskipun semuanya itu akan mudah hilang. Tubuh yang sehat memang adalah berkat yang luar biasa, tapi tahukah kamu bahwa itu semua bisa lenyap suatu hari.

Di tengah kebahagiaan dan kehangatan sebuah keluarga atau persahabatan yang indah, kematian bisa menerobos masuk tanpa dapat kita perkirakan sebelumnya. Hari ini mungkin kita mampu bersyukur oleh karena kita mempunyai sesuatu untuk dikerjakan, tetapi esok hari kita bisa kehilangan pekerjaan. Meja makan kita mungkin penuh dengan makanan hari ini, tetapi mungkin besok kita menemukan meja makan kita kosong dan kita bertanya-tanya, "apa yang harus saya makan?."

Ucapan syukur kita kepada Tuhan seharusnya tidak hanya terfokus kepada perkara-perkara makanan, keluarga, teman, pekerjaan, yang semuanya itu bisa hilang, tetapi bersyukurlah juga akan perkara yang tidak dapat hilang dari kita.

Dalam Roma 8:35-39, Rasul Paulus menuliskan bahwa tidak ada sesuatu pun "akan memisahkan kita dari Kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Kasih Allah tak pernah gagal, tak pernah mengecewakan, tak pernah berubah dan yang terlebih penting tidak akan pernah habis atau hilang."

Jadi, bila hari ini Anda berada jauh dari rumah dan keluarga, tubuh dan jiwa Anda berada keadaan lemah, hati Anda sedang kosong, tidak ada yang dapat Anda makan, atau tidak ada sesuatu yang dapat Anda banggakan, ingatlah akan hal ini: bersyukurlah karena Kasih Kristus. Kasih-Nya abadi dan tidak ada satu masalah pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya yang besar.

Jangan biarkan satu haripun kita kehilangan Kasih Kristus.

Renungan terkait
* Hidup yang melekat pada kristus
* Pilih Kasih
* Jangan hidup menyendiri
* Kesabaran dalam berdoa
* Doa tak bersyarat


Kamis, 03 Maret 2011

Dilindungi oleh Kasih

Matius 5:44-45
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 64; Markus 8; Bilangan 11-12

Kasihilah musuhmu... siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu... Bagi kebanyakan orang, hal ini dianggap sebagai suatu kelemahan. Tetapi, kebenarannya ialah, itulah cara terampuh untuk mengalahkan musuh terkuat. Itulah cara Yesus menanganinya, dan cara-Nya tidak pernah gagal.

Ketika Yesus mengatakan untuk memberikan pipi lainnya untuk ditampar, Dia bermaksud agar Anda berdiri dalam kasih dan dalam iman untuk mempercayai bahwa kuasa perlindungan Tuhan yang mengiringi kasih itu akan menjaga Anda.

Kisah dari Nicky Cruz seperti yang ditulis dalam buku David Wilkerson, The Cross and the Switchblade adalah contoh terbaik mengenai hal itu. Nicky terkenal sebagai pemimpin geng paling kejam pada masanya. Namun ketika David Wikerson berdiri di hadapannya dan memberitahukannya tentang Yesus, Nicky sama sekali tidak sanggup melukainya. Nicky mencoba menusukkan pisaunya kepada David beberapa kali. Tetapi setiap kali dia melakukannya, David hanya berkata, "Nicky, engkau dapat memotongku sampai seribu irisan dan setiap irisan tetap akan berkata, aku mengasihimu dan Tuhan mengasihimu." Karena kasih, Nicky tidak dapat menghujamkan pisaunya kepada David. Satu kuasa adikodrati selalu mencegahnya.

Mungkin Anda berkata, "Tetapi saya tidak memiliki kasih semacam itu!" Tahukah Anda bahwa Anda telah memiliki kasih itu? Roma 5:5 memberitahukan kita bahwa kasih Tuhan dicurahkan sepenuhnya di hati Anda oleh Roh Kudus.Yang harus Anda lakukan hanyalah mengambil keputusan untuk digerakkan oleh kasih itu dan bukannya oleh perasaan manusiawi Anda sendiri.

Kasih tidak pernah gagal! Anda tidak perlu lagi takut akan kegagalan. Bahkan sebenarnya, Anda tidak perlu takut apa pun. Jika Anda sedang berjalan dalam kasih Allah, maka Anda sedang menghayati jenis kehidupan yang paling berkuasa di dunia!

Hasrat kita untuk terlihat kuat sering kali menghalangi kasih itu dinyatakan melalui hidup Anda.

Renungan terkait
* Musuh membuat Anda sukses
* Mengasihi musuh mungkinkah
* Di khianati orang terdekat
* Never give up
* Ada tetesan setelah tetesan terakhir


Minggu, 13 Februari 2011

Kasih Yang Kekal

Yeremia 31:3
"Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 45; Kisah Para Rasul 17; Keluaran 39-40

Siapa yang dapat menggambarkan atau mengukur kasih Allah? Alkitab merupakan sebuah pewahyuan atas fakta bahwa Allah adalah Kasih. Ketika Anda membaca Firman Tuhan tentang keadilan, itu adalah keadilan yang diimbangi oleh kasih. Ketika Anda membaca Firman Tuhan tentang kebenaran, itu adalah kebenaran yang didirikan di atas kasih. Ketika Anda membaca tentang penebusan dosa, itu adalah penebusan yang dilakukan karena kasih, bersumber pada kasih diselesaikan oleh kasih.

Ketika Anda membaca Firman Tuhan mengenai kebangkitan Kristus, Anda membaca mengenai keajaiban kasih. Ketika Anda membaca Firman Tuhan tentang hadirat Kristus yang menetap, Anda membaca mengenai kuasa kasih. Ketika Anda membaca Firman Tuhan mengenai kedatangan Kristus, Anda membaca mengenai penggenapan kasih.

Betapa kotor, hitam, memalukan atau mengerikannya dosa Anda dan saya, Allah mengasihi kita. Apa buktinya? Yesus Kristus, Putra Allah Satu-satunya, disalibkan untuk kita. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).

Jika ada kasih yang tidak lekang oleh waktu maka itu adalah kasih Allah kepada kita.

Renungan terkait
* Cinta sejati
* Mencari cinta sejati
* Menemukan cinta sejati
* Cinta dan kasih
* Indahnya cinta


Rabu, 09 Februari 2011

Pilih Kasih

Yohanes 21:21-22
"Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 40; Kisah Para Rasul 12; Keluaran 29-30

Menjadi orang yang dijadikan nomor dua atau tiga dalam sebuah keluarga bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Akibat hal ini juga, banyak anak yang akhirnya terluka atas perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Tidak hanya di rumah, di dalam perusahaan pun hal ini sering ditemui sehingga muncullah sebutan "anak emas bos" bagi mereka yang selalu mendapat perlakuan khusus dari atasannya.

Bagi mereka yang di-anakemas-kan, tentulah senang dengan perilaku yang diberikan oleh para pemimpinnya, tetapi bagi mereka yang tidak, kekecewaan dan kebencian tumbuh menyatu menjadi satu. Sadar atau tidak, pandangan kita terhadap Allah pun seperti itu. Kita menganggap bahwa ketika seseorang mendapat berkat yang luar biasa melimpah dan kita belum mendapatkannya maka kita akan menuduh-Nya sebagai Allah yang pilih kasih.

Dalam Kemahabesarannya, Allah memiliki wewenang menganugerahkan kasih dan kuasa-Nya kepada siapa ia ingin memberikannya. Hal ini bukan berarti Dia menganggap seseorang tidak berharga dan yang lain begitu tinggi derajat di mata-Nya. Dia memiliki rahasia tersendiri untuk memberkati satu persatu umat-Nya dan kita tidak perlu menanyakannya. Percaya saja, Allah telah menyiapkan berkat yang terbaik dan Dia akan mencurahkan sesuai dengan waktu yang dirancang-Nya.

Mungkin hari ini ada diantara Anda yang sudah berpaling dari Allah karena suatu peristiwa yang Anda anggap tidak harus Anda alami. Dalam kasih Kristus, saya mengatakan kembalilah kepada-Nya. Allah tidak pernah pilih kasih dan kalau pun ada kejadian yang membuat Anda begitu sedih dan kecewa lihatlah ada maksud-Nya yang besar dan mulia dibalik semua itu.

Allah mengasihi anak-anakNya dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun dan oleh apa pun juga.

Renungan terkait
* Sebuah pilihan kasih Tuhan atau mie instant
* Dosis kasih yg sehat
* Tetaplah berlari
* Tidak ada biaya untuk yg namanya kasih
* Kemenangan selalu di pihak Tuhan



Artikel Renungan favorit pembaca