Sabtu, 05 Desember 2009

Filsafat Bolak Balik

Mari kita renungkan....

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (karena capek jadi kuli…)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit

Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga

Mau.. jalanin hidup seperti itu???

2 komentar:

Blog Watcher mengatakan...

NEGERI PENUH DENGAN KETIMPANGAN ; ORANG MISKIN VS ORANG KAYA


Fenomena menarik terjadi dipenhujung tahun ini. Setelah gonjang-ganjing menyoroti masalah penegakan hukum, kini guncangan kembali terjadi, kali ini dalam dunia ekonomi. Yaitu dirilisnya daftar 40 orang terkaya di Indonesia oleh majalah bisnis Fobes.

Dari laporan terbaru majalah tersebut, rata-rata nilai total kekayaan mereka naik dunia kali lipat bila dibandingkan bulan desember tahun 2008. Dari US$ 21 miliar (sekitar Rp. 197,4 triliun) menjadi US$ 42 miliar (sekitar 394,8 triliun) tahun 2009.

Tentunya ini akan menjadi bekal positif bagi pelaku perekonomian untuk menapaki tahun depan.

40 Orang Terkaya Indonesia
1 (1-2). R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
2 (5). Martua Sitorus US$ 3 miliar
3 (12). Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
4 (9). Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
5 (8). Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
6 (6). Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
7 (4). Putera Sampoerna US$ 2 miliar
8 (1). Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
9 (11). Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
10 (20). Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar
11 (25. Low Tuck Kwong US$ 1,18 miliar
12 (7). Eddy William Katuari US$ 1,1 miliar
13 (13). Chairul Tanjung US$ 999 juta
14 (23). Garibaldi Thohir US$ 930 juta
15 (24). Theodore Rachmat US$ 900 juta
16 (26). Edwin Soeryadjaya US$ 800 juta
17 (14). Trihatma Haliman US$ 750 juta
18 (baru). Ciliandra Fangiono US$ 710 juta
19 (15). Arifin Panigoro US$ 650 juta
20 (10). Murdaya Poo US$ 600 juta
21 (baru). Hashim Djojohadikusumo US$ 500 juta
22 (baru). Kusnan & Rusdi Kirana US$ 480 juta
23 (27). Prajogo Pangestu US$ 475 juta
24 (18). Harjo Sutanto US$ 470 juta
25 (17). Mochtar Riady US$ 440 juta
26 (39). Eka Tjandranegara US$ 430 juta
27 (40). Ciputra US$ 420 juta
28 (22). Hary Tanoesoedibjo US$ 410 juta
29 (baru). Sandiaga Uno US$ 400 juta
30 (baru). Boenjamin Setiawan US$ 395 juta
31 (34). Alim Markus US$ 350 juta
32 (21). Aksa Mahmud US$ 330 juta
33 (31). Sutanto Djuhar US$ 325 juta
34 (32). Kartini Muljadi US$ 320 juta
35 (33). Soegiarto Adikoesoemo US$ 300 juta
36 (35). George & Sjakon G Tahija US$ 290 juta
37 (28). Paulus Tumewu US$ 280 juta
38 (19). Husein Djojonegoro US$260 juta
39 (baru). Bachtiar Karim US$ 250 juta
40 (36). Kris Wiluan US$ 240 juta

Ket: Angka dalam kurung peringkat tahun lalu.

POTRET KETIMPANGAN SOSIAL

Kemakmuran adalah tujuan pembangunan dan kemiskinan adalah kegagalannya. Bila kita liat daftar 40 orang terkaya tersebut, keadilan sosal yang selama ini kita damba-dambakan seakan-akan sudah tercapai. Namun disisi yang lain, kemiskinan merupakan wajah yang tidak dapat disembunyikan.

Bila kita mengukur distribusi kekayaan dengan indeks Gini, akan semakin terlihat jelas jurang perbedaan antara sikaya dengan simiskin.

Data BPS tahun 1998, Indeks Gini berada pada angka 0,32. Tahun 1999, naik menjadi 0,33. Terakhir pada 2005, naik lagi menjadi 0,34. Semakin tinggi nilai yang dihasilkan maka semakin buruk distribusi pendapatanya. Dengan jelas terlihat jurang perbedaan antara orang miskin dengan orang kaya semakin melebar.

Ironi!!! negeri yang banyak memproduksi Orang-orang kaya, ternyata banyak juga menghasilkan orang-orang miskin.

Kekaaan para Taipan dari tahun ke tahun terus merangkak naik, Jutaan orang-orang miskin dan ribuan pengangguran pun juga makin tinggi.

Akhirnya sulit bagi kita untuk tidak menyebut "kita adalah bangsa yang penuh dengan ketimpangan dan kepincangan."

richard tgr mengatakan...

terima kasih atas renungannya. sangat bagus untuk membuat kita berpikir secara jernih buat apa kita selama ini menjalani hidup. Tuhan memberkati

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca