Jumat, 10 Juni 2011

Monumen Kehidupan

Matius 23:31
“Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu”

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 12; Galatia 1; Kidung Agung 7-8

Rumah kelahiran Tan Malaka di Padang Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, tidak banyak berubah dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Kondisi rumah yang dijadikan museum itu masih relatif sama dan koleksi buku tidak banyak bertambah. Museum juga tidak mempunyai pemasukkan karena tidak ada pungutan pengunjung museum. Koleksi buku di museum ini tidak banyak bertambah sejak diresmikan pada 21 Februari 2008.

Tuhan mengajar bangsa Israel untuk menghargai campur tangan Tuhan dan jasa para leluhur yang terjadi dalam kehidupan mereka. Salah satu bukti tentang hal itu antara lain ketika bangsa itu melawan bangsa Filistin pada zaman Yosua. Hamba Tuhan ini menegakkan kedua belas batu yang diambil dari Sungai Yordan. Tugas para orangtua ketika anak-anak mereka bertanya tentang bangunan itu adalah menceritakan pengalaman mereka ketika menyebrangi Sungai Yordan. Dengan begitu anak-anak tersebut akan belajar menghargai keteladanan para leluhur mereka. Bangunan itu menjadi saksi bisu tentang keperkasaan Tuhan dan sikap bakti manusia yang percaya kepada-Nya.

Berbeda dengan itu adalah sindiran Tuhan Yesus kepada orang Israel yang melabur makam para nabi yang hidup pada zaman leluhur mereka. Tuhan menegur keras karena makam itu menjadi bukti pemberontakkan nenek moyang bangsa tersebut kepada Tuhan. Para nabi itu mati dibunuh oleh tangan-tangan kotor yang memberontak kepada Tuhan.

Setiap orang memiliki monumen perjalanan hidupnya masing-masing. Monumen kehidupan seperti apakah yang sedang kita bangun? Perhatikanlah kehidupan kita, dan biarlah semakin banyak monumen ketaatan yang kita bangun di kehidupan ini.

Monumen kehidupan kita berkisah tentang kenyataan siapa kita sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca