Selasa, 23 Juni 2009

Kesedihan

Menikah adalah saat indah yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang. Apalagi jika menikah dengan orang yang tepat, kebahagiaan terasa lengkap. Beberapa waktu lalu, kita membaca berita dari media massa tentang seorang mantan model yang melarikan diri dari suaminya, yang notabene seorang bangsawan kerajaan. Hal ini menjadi berita yang menghebohkan.

Banyak orang ingin menikah dengan orang yang sukses, kaya dan berdarah biru dengan harapan memiliki masa depan yang mapan, terjamin dan nyaman. Tetapi tidak semua keinginan kita bisa terpenuhi. Apa yang menurut kita terbaik belum tentu benar-benar yang terbaik. Kenyataan bisa tidak sesuai dengan harapan. Alih-alih kenyamanan, mantan model tersebut justru diperlakukan layaknya "properti" sang suami. Bahkan menurut penuturannya, ia kerap disiksa secara mental dan fisik. Hal-hal itulah yang membuatnya melarikan diri dari suaminya. Orang yang dikira kekasihnya justru menyakitinya. Sangat pedih dan menyayat hati. Apa akibat sedih berkepanjangan? Bagaimana mengatasi kesedihan.

Hadapi kenyataan
Dalam kitab Samuel kita membaca kisah Daud mengalami pengkhianatan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Absalom, anak dan darah dagingnya sendiri, merebut tahtanya. Saat tentara Daud berperang melawan tentara Absalom, Absalom mati ditangan Yoab, panglima Daud. Daud sangat sedih mendengar kematian anaknya. Lalu Yoab mencoba untuk mendekati dan menenangkan Daud.

Kendati Daud meratapi kesedihannya, ia perlu mendengarkan nasihat Yoab. Paling tidak ada tiga hal yang disampaikan Yoab kepada Daud. Pertama hadapi kenyataan. "Jangan biarkan kesedihan atas kematian itu menutupi kebenaran." Kenyataan kadang sangat menyedihkan dan mengecewakan, tetapi kita tidak bisa membiarkan kenyataan itu mengendalikan seluruh hidup dan masa depan kita. Kenyataan tidak bisa dihindari dan harus dihadapi.

Kedua, jangan mengasihani diri sendiri. "Semua pikiran tertuju pada dirimu sendiri, kehilanganmu, anakmu. Rasa kasihan pada diri sendiri yang disebabkan oleh rasa bersalah tidak bisa menghapuskan kenyataan bahwa engkau tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan anakmu." Sikap mengasihani diri sendiri sering kali membuat seseorang tidak menghargai dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang berharga. Jika kita terus mengasihani diri sendiri maka kita tidak punya waktu untuk mengasihani orang lain.

Ketiga, teguhkanlah mereka yang dekat denganmu. "Para pejuang yang berperang melawan Israel lebih dekat denganmu dari pada anakmu sendiri. Kesedihanmua atas kehilangan Absalom tidak adil bagi keluarga mereka yang sedang bersedih. Beberapa diantaranya bahkan mati membela Daud." (2 Samuel 19:5-7). Kesedihan bisa menular dan menurunkan semangat orang lain, apalagi jika yang sedih itu adalah pemimpin. Kita tidak bisa memungkiri bahwa respon kita terhadap kesedihan mempengaruhi orang lain, apakah itu akan melemahkan atau membangkitkan semangat orang lain.

Bisa dipikul
Beban berat itu bisa dipikul. Bagaimana caranya? Pertama, kita membutuhkan teman yang benar-benar jujur dan bisa mendorong kita untuk berjalan maju dalam hidup ini. Teman-teman seperti ini perlu waktu untuk ditemukan, dan jika sudah ada, hubungan itu harus dipelihara. Apakah Anda sudah mempunya teman seperti itu?

Kedua, kita membutuhkan sang Penyelamat yang bisa diandalkan. Setiap orang tidak mungkin bisa memahami dan menjalani beban yang berat tanpa bantuan Tuhan. Ketiga. kita membutuhkan keyakinan yang tidak bisa digoyahkan apapun. Penekanan adalah pada kata "TIDAK BISA". Bahkan ketika kita tidak mengetahui mengapa, kita bisa menjalaninya dengan keyakinan seperti itu.

Helen Rosevere adalah seorang misionaris medis Inggris selama bertahun-tahun. Ia terperangkap dalam pemberontakan yang terjadi di Kongo. Ketika para revolusioner Mau-Mau diserbu, dia menjadi korban. Wanita saleh yang tidak berdosa ini kemudian diserang, diperkosa dan dilecehkan.

Kehidupannya bertahan pada keyakinannya yang tidak tergoyahkan. Sementara memulihkan diri dari peristiwa yang sungguh berat itu, Helen dengan Tuhannya menjadi semakin dekat dibandingkan sebelumnya. Ia menulis pernyataan dalam bentuk sebuah pertanyaan yang harus dibaca oleh setiap orang dan dirinya sendiri: "Helen, bisakah engkau berterima kasih kepadaKu karena mempercayaimu untuk mengalami peristiwa itu, kendati Aku tidak pernah mengatakan kepadamu mengapa?"

Kesedihan akibat kenyataan yang tidak sesuai harapan bisa muncul sewaktu-waktu, bahkan kesedihan yang disebabkan oleh orang yang dikasihi. Tetapi yang menentukan masa depan kita bukanlah kesedihan itu tetapi respon kita terhadapnya. Hal itu tidak akan berdampak bagi kita yang mengalaminya saja, tetapi juga orang lain disekita kita. Selamat berpulih dari kesedihan. Tuhan Yesus memberkati.

Sumber : Warta jemaat Gereha Mawar Sharon

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca