Selasa, 29 Januari 2008

Seharusnya berbeda

Seluruh Kitab suci diilhamkan Allah dan bermanfaat ... untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16)

Seorang anak laki-laki berbantah dengan Ayahnya. Sang Ayah kehilangan kesabarannya dan menampar anak itu. Anak itu berlari keluar rumah dan naik ke tebing karang di tepi sebuah danau, menenggelamkan dirinya. Orang-orang tahu bahwa anak itu tidak main-main.

Ayahnya berlari menyusulnya, berteriak-teriak. Seluruh keluarga dan separuh warga kota ikut panik dan membujuk anak itu agar mengurungkan niatnya. Akhirnya, mereka berhasil menghentikan anak itu dan membawanya ke rumah. Namun, untuk selanjutnya, hubungan antara Ayah dan anak itu tidak pernah pulih.

Anak yang memiliki kepahitan itu tumbuh menjadi pria bermuka masam. Pada suatu saat, ia bahkan dijuluki sebagai seorang yang paling berbahaya di dunia ini. Namanya Mao Tse-tung, mantan pemimpin komunis RRC.

Akankah keluarga kristiani menghasilkan anak-anak yang berbeda? seharusnya demikian. Kehidupan Timotius adalah contoh yang bagus. Ia lahir, dibesarkan, dan dididik ditengah keluarga yang saleh. Iman ibu dan neneknya ditanamkan didalam dirinya sejak kecil. Iman itu sungguh-sungguh berdampak dalam hidupnya. Terbukti dalam usia yang masih muda, ia telah dipercaya untuk menggembalakan sebuah jemaat.

Firman Tuhan kaya dengan prinsip-prinsip kebenaran untuk menuntun kehidupan kita. Kalau kita mempersilahkan Tuhan menjadi pemimpin keluarga kita, keluarga kita tentu dapat menghasilkan buah-buah yang berguna bagi kerajaannya.

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca