Selasa, 22 Januari 2008

Yaa.... Pengantinnya kok jelek?

Ketika masih kecil, aku suka ikut ibu ke acara kondangan. Alasanku ada dua: melihat pengantin dan makan puding. Hehehe!

Suatu kali aku diajak Ibu ke rumah temannya yang akan melangsungkan pernikahan. Teman Ibu ku itu perempuan. Si mbak yang akan menikah itu cantik, tinggi, langsing, berkulit kuning langsat, dan ia selalu baik terhadapku. Saat itu aku datang pada malam midodareni, jadi aku tidak bertemu dengan penganting laki-lakinya. Dalam angan-anganku, pasti pengantin laki-lakinya cakep dan baik hati, setara deh sama sih mbak itu.

Tetapi, beberapa hari kemudian aku bertemu dengan pasangan muda itu dan... kecewa. Ternyata suami sih mbak itu gak secakep bayanganku.

Ketika sudah sebesar ini, dan setelah membaca beberapa buku (tepatnya mengedit naskah-naskah / buku-buku yang berkaitan dengan pernikahan), aku sadar bahwa cinta gak melulu soal perasaan. Cinta gak ditandai dengan perasaan penasaran ketika seorang lelaki baru saja bertemu dengan seorang perempuan (yang ia anggap) cantik. Ya, mungkin saja mereka bisa menjadi pasangan yang "hidup bahagia selama-lamanya", tetapi tentunya gak semuda itu perasaan tersebut disebut cinta. Itu cuma perasaan tergila-gila (infatuation) yang keberadaannya hanya sementara.

Lebih jauh lagi, cinta adalah soal keputusan. Keputusan untuk menerima seseorang apa adanya, termasuk kelemahan dan kejelekannya. Kukira ini bukan hal mudah, karena bagaimanapun kita akan mudah merasa kecewa ketika menjumpai ketidaksempurnaan.

Karena itu, ketika Tuhan mencintai kita, kupikir itu adalah hal yang sangat luar biasa. "Memangnya kita siapa sih?" Jika kita disebut mepelai Tuhan dan jika memakai bahasa anak kecil, mungkin akan terlontar pertanyaan, "Kok pengantinnya jelek?"

Kita adalah pengantin yang jelek, karena kita gak setara dengan Tuhan yang maha sempurna. Ya, kalau kita menganggap penampilan kita ok (baca: cantik atau tampan), bagaimana dengan isi hati kita? Apa hati kita juga ok? (itu menjadi pertanyaan penting buat aku.)

Dan kupikir Tuhan memang mempunyai hati seluas samudra. Kok bisa ya, dia mencintai manusia, sampai anak-Nya diutus untuk berkorban bagi kita yang kerap gak tau berterima kasih? tetapi begitulah Tuhan. Hati dan cinta-Nya memang gak tanggung-tanggung. Semuanya buat kita.

Jadi, tidakkah kita teramat bersyukur dicintai Tuhan?

Disarikan dari buku "Tuhan, Ngobrol Yuk!"
Gloria cyber ministries 2006, Krismariana

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca