Senin, 28 Juli 2008

Keberhasialan sejati

Bacaan Mazmur pasal 1

Buku karya Stephen R. Covey hanya dalam beberapa minggu bisa laku 15 juta eksemplar. Mengapa? Karena buku itu menawarkan langkah-langkah untuk mencapai keberhasilan. Di jaman yang susah ini, tidak hanya obat sakit kepala yang laris, tapi juga buku-buku yang menulis tentang kunci keberhasilan.

Keberhasilan sejati
Namun, pengertian yang lebih lengkap tentang keberhasilan ada dalam kitab mazmur pasal pertama. Pemazmur juga menulis bahwa keberhasilan ditentukan oleh keberutungan atau nasib tetapi karena kebiasaan-kebiasaan yang harus dikembangkan dalam hidup. Selain itu, pemazmur juga juga menulis bahwa tidak semua kberhasilan adalah keberhasilan sejati.

Keberhasilan yang sejati, yaitu keberhasilan yang membawa kepada kebahagiaan (ayat 3). Sebaliknya, keberhasilan yang semu dan tidak sejati, adalah keberhasilan yang tidak membawa kebahagiaan (ayat 4).

Orang yang mengalami keberhasilan sejati digambarkan hidupnya seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, menghasilkan buahnya pada musimnya, tidak layu daunnya, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil. Apapun kondisi jaman, dia tetap tegar karena berada di tepi aliran air.

Sedangkan orang yang mengalami keberhasilan semu dan tidak sejati di gambarkan hidupnnya seperti sekam yang ditiup oleh angin. Sesaat sekam itu ada, tetapi ketika ditiup angin, sekam itu lenyap, hilang tak berbekas. Keberhasilan semu bersifat sementara.

Jelas, kita tidak ingin hidup seperti sekam yang mudah hilang ditiup angin. Semua pasti ingin hidup seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Oleh karena itu ada kebiasaan-kebiasaan yang harus dikembangkan supaya memiliki hidup seperti pohon di tepi aliran air (Mazmur 1:1,2, dan 6).

Kebiasaan
Pertama, orang yang memiliki hidup seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air adalah orang yang memiliki kebiasaan pergaulan yang benar (ayat 1).

Pergaulan memiliki pengaruh besar dalam menentukan hidup kita. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan siapa kita bergaul. Bukan maksud saya supaya kita menjadi eksklusif. Kita tetap harus bergaul dan mengenal semua orang supaya bisa menjadi saluran berkat Tuhan bagi banyak orang. Tetapi kita harus berhati-hati memilih teman akrab kita. Rasul Paulus dalam suratnya di Korintus menulis "Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik".

Kebiasaan kedua yang harus dikembangkan adalah memiliki pemikiran yang benar (ayat 2). Mutu hidup kita tergantung dari apa yang kita pikirkan. Kalau yang kita pikirkan adalah ha-hal yang kotor, maka hidup kita akan kotor. Tetapi, jika kita selalu memikirkan kebenaran, maka hidup kita akan selalu segar. Amsal 23:7 menulis, "For as he thinketh in his heart, so is he." Artinya sebagaimana orang berpikir dalam hatinya, demikianlah ia.

Jagalah telinga dan mata Anda. Jangan melihat atau membaca yang tidak seharusnya. Jangan mendengar apa yang tidak sepantasnya. Karena apa yang kita lihat dan dengar dapat mempengaruhi pikiran kita. Sebaliknya, baca dan lihatlah apa yang baik, seharusnya dan sepantasnya.

Kebiasaan ketiga adalah perilaku yang benar. Bukan hanya memiliki pergaulan dan pikiran yang benar tetapi perilakunya juga harus benar. Jika kita perilaku memuliakan nama Tuhan, hati Tuhan akan disenangkan , dan memuncak pada satu kesimpulan, "apa saja yang diperbuatnya berhasil". Bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena Tuhan berkenan kepadanya.

Bergaul dengan Tuhan
Ketiga kebiasaan itu saling berkaitan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pergaulan menjadi sangat penting karena mempengaruhi pikiran kita dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku kita. Dan dari semua pergaulan tidak ada pergaulan yang lebih penting daripada bergaul dengan Tuhan.

Seorang pelukis berusaha melukiskan kata "damai". Pertama, ia melukis sebuah danau yang tenang, airnya tidak bergelombang, diatasnya awan berarak tipis. Lukisan yang elok, tetapi ia tidak cukup puas karena belum cukup bisa menggambarkan kata damai.

Lalu ia melukis sawah yang sedang menguning, siap dipanen dengan latar belakang gunung menghijau dan langit berwarna keemasan. Lukisan itu juga indah tapi tidak cukup menggambarkan kata "damai".

Terakhir ia melukis laut yang sedang bergelora ditiup badai, gelombang mengamuk, badai menerjang. Di sebelah kanan berdiri sebuah batu karang. Kemudian pada batu karang itu dilukiskan sebuah celah yang berwarna terang dengan seekor burung kecil yang sedang bernyanyi di dalamnya. Pelukis itu baru puas. Burung itu bernyanyi karena tahu ia berada di tempat yang aman, di dalam batu karang yang teguh dan tidak akan bergoncang, bagaimana pun badai menerjang. Seperti itulah hidup didalam pergaulan dengan Tuhan. Di tengah dunia yang semakin sulit ini, kita harus bergaul akrab dengan Tuhan. Itulah kunci keberhasilan yang sejati.

(Diambil dari warta jemaat Gereja Mawar Sharon, disarikan dari khotbah Pdt. Bambang Wijaya)

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca