Senin, 21 Maret 2011

Senjata Puji-pujian

Mazmur 9:2-4
"Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 82; Roma 10; Ulangan 11-12

Jangan meremehkan pentingnya puji-pujian. Itu merupakan salah satu senjata rohani terampuh yang Anda miiki. Puji-pujian itu lebih merdu daripada lagu atau sepatah kata pembangkit semangat tentang Tuhan. Itu menghasilkan sesuatu. Itu menyalurkan hadirat Tuhan sendiri. Dan bila hadirat Tuhan muncul, semua musuh Anda terpukul mundur. Penyakit tidak dapat tinggal di tubuh Anda. Kemiskinan tidak dapat tinggal di rumah Anda.

Keletihan jasmani akan lenyap bila dihadapi dengan puji-pujian sejati yang penuh sukacita. Mungkin ada diantara Anda yang berkata dalam hati, "Bagaimana bisa hal ini bisa terjadi? Hanya dengan memuji Tuhan, sakit penyakit hilang. Hanya dengan mengagungkan nama-Nya, keletihan tubuh lenyap?" Sangat sulit untuk menjawabnya secara logika. Anda harus merasakan dan mengalaminya sendiri.

Iblis mengetahui kuasa dari puji-pujian kepada Allah karena ia berasal dari surga awalnya. Ia tidak akan berhenti menggoyahkan iman Anda dengan perkataan penuh muslihatnya. Namun, syukur kepada Tuhan karena kita mengetahui betapa dahsyat puji-pujian yang kita naikkan ke hadapan Raja di atas segala raja.

Jadi, bila iblis kelak mencoba menahan keberhasilan Anda, menguras kekuatan Anda, mengambil kekayaan dan kemenangan yang jadi milik Anda dalam Yesus, pukul mundurlah dia dengan senjata ampuh puji-pujian itu. Angkatlah tangan, suara dan segenap hati Anda kepada Tuhan. Pujilah Dia !

Saat puji-pujian dinaikkan, segala kuasa jahat dihancurkan dan berkat Allah dicurahkan ke atas kehidupan setiap kita yang menyembah-Nya.

Renungan terkait
* Tekanan berbuah kebenaran
* Tahta untuk sang putri
* Tuhan membebaskan Anda
* Hak istimewa untuk berdoa
* Doa yang sia-sia


Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca