Senin, 03 Agustus 2009

Hati yang Congkak

Bacaan: Daniel 4:28-37

Setelah diperingatkan oleh Daniel perihal kesombongannya, raja Babel, Nebukadnezar, menjadi gila. Tuhan baru memulihkan akal budinya setelah ia menghabiskan waktu tujuh tahun di padang dengan menganggap dirinya seekor binatang buas.

Nebukadnezar berubah dari orang sombong yang berkata, “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang … untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Daniel 4:30) menjadi seorang pendoa rendah hati yang mengatakan, “Aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Surga” (ayat 37). Ia telah bertobat dari kesombongannya yang luar biasa.

Guru Alkitab, J. Vernon McGee mengungkapkan keprihatinannya terhadap kecongkakan dalam gereja saat ini. Ia menasihati para pemimpin gereja, “Jangan coba-coba membangun kecongkakan sedikit pun di tengah jemaat. Saya memulai dengan pandangan itu, dan saya menjadi lebih bahagia sesudahnya.” Ia mendorong mereka untuk “membangun jiwa-jiwa umat” dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Ketika sebuah gereja mengerahkan tenaga yang tidak semestinya hanya untuk meningkatkan statistik, membangun gedung, dan memperjuangkan program gereja, kecongkakan dapat masuk dan kebutuhan umat Allah justru terlupakan.

Yesus tidak pernah melupakan pentingnya setiap individu. Dia menginvestasikan waktu untuk mengajar 12 murid-Nya (Markus 3:14). Paulus mengajar Timotius yang selanjutnya juga akan mengajar orang lain lagi (2 Timotius 2:2). Kerajaan Allah bertumbuh apa­bila kita mencurahkan waktu untuk memerhatikan sesama —HDF

SAYANG SEKALI JIKA gereja menilai program gereja lebih penting daripada jemaat

Tidak ada komentar:

Arsip Renungan

Artikel Renungan favorit pembaca